Fenomena “Lapar Mata” Saat Berburu Takjil Memperparah Masalah Sampah Makanan
Selama bulan Ramadan, fenomena “lapar mata” saat berburu takjil menjadi salah satu faktor yang turut memicu peningkatan timbunan sampah makanan dan kemasan sekali pakai. Hal ini tidak hanya terjadi di tingkat lokal, tetapi juga secara nasional, dengan laporan menunjukkan lonjakan hingga 10–20 persen selama masa puasa.
Menurut Karina dari Aksata Pangan Food Bank Medan, peningkatan volume sampah ini didominasi oleh sisa makanan dan kemasan plastik atau styrofoam. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) juga mencatat adanya tren kenaikan volume sampah saat Ramadan.
Dampak Negatif Sampah Makanan pada Lingkungan
Sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan menghasilkan gas metana (CH4), yang merupakan salah satu gas rumah kaca dengan dampak signifikan terhadap pemanasan global. Gas ini 25 hingga 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida (CO2) dalam menangkap panas.
Selain itu, kemasan sekali pakai seperti plastik dan styrofoam membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Plastik yang terdegradasi akan menjadi mikroplastik dan berpotensi mencemari rantai makanan. Isu mikroplastik kini menjadi perhatian global karena telah ditemukan dalam berbagai sumber pangan, bahkan dalam tubuh manusia.
Ironi Pemborosan Makanan di Tengah Kekurangan Akses Pangan
Dari sisi sosial, pemborosan makanan sangat ironis. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas tahun 2021, Indonesia menghasilkan 115–184 kilogram sampah makanan per kapita per tahun. Jika tidak terbuang, jumlah tersebut berpotensi memberi makan sekitar 49 persen populasi Indonesia yang membutuhkan.
“Masih banyak masyarakat yang kesulitan akses pangan, tapi di sisi lain makanan terbuang begitu saja. Ini yang coba kami lawan melalui gerakan penyelamatan pangan,” ujar Karina.
Aksata Pangan sebagai food bank di Medan berupaya menyelamatkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari berbagai sumber untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat membutuhkan. Di Kota Medan sendiri, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, sisa makanan mendominasi timbunan sampah di TPA Terjun, terutama saat Ramadan.
Solusi untuk Mengurangi Pemborosan Makanan
Karina menekankan pentingnya penerapan hierarki pemulihan makanan, mulai dari pencegahan, donasi, hingga pengolahan kembali. Jika makanan masih layak konsumsi, masyarakat dapat membagikannya kepada tetangga, petugas kebersihan, pengemudi ojek daring, atau pihak lain yang membutuhkan. Untuk skala besar seperti acara buka bersama, distribusi dapat dilakukan melalui food bank.
Sementara makanan yang tidak lagi layak konsumsi dapat dialihkan menjadi pakan ternak, dikelola melalui budidaya maggot yang mampu mengurai 70–80 persen sampah organik, atau diolah menjadi kompos rumah tangga.
“Sebisa mungkin hindari membuang makanan langsung ke tempat sampah. Karena ujungnya akan masuk ke TPA dan menambah beban lingkungan,” jelasnya.
Tips untuk Lebih Bijak Selama Ramadan
Karina juga membagikan beberapa tips agar masyarakat lebih bijak dalam mengelola pangan selama Ramadan:
- Buat perencanaan belanja atau meal prep sebelum membeli bahan makanan dan takjil. Dengan daftar belanja, masyarakat dapat menghindari pembelian impulsif.
- Ambil porsi kecil jika ingin membeli takjil. Jangan sampai beli berlebihan tapi tidak habis.
- Simpan makanan yang tersisa dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah kontaminasi silang. Makanan basah sebaiknya disimpan di freezer agar lebih tahan lama dibanding hanya di chiller.
- Jika makanan masih bisa dimakan saat sahur, simpan dengan benar. Tapi kalau sudah tidak layak, olah jadi kompos atau pakan ternak.
Kesadaran dan Syukur dalam Mengelola Pangan
Karina berharap Ramadan menjadi momentum meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih bersyukur dan bijak dalam mengelola pangan. “Bijak dan berkesadaran dalam mengonsumsi makanan juga bagian dari rasa syukur. Ramadan harusnya bukan hanya menahan lapar, tapi juga belajar mengendalikan diri, termasuk dari pemborosan,” tutupnya.





