Pendidikan Jiwa dalam Ramadan
Di balik ibadah puasa Ramadan, tersembunyi pelajaran penting tentang pengendalian diri yang menjadi kunci keberhasilan dunia dan akhirat. Pesan ini disampaikan oleh Dr. Hasan Zayadi, S.Si., M.Si., dalam program Kalam Ramadan yang disiarkan melalui kanal YouTube Humas Unisma Official, pada Minggu (1/3/2026). Sebagai dosen di Fakultas MIPA, khususnya Program Studi Biologi, serta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Universitas Islam Malang periode 2024–2028, ia mengangkat tema “Puasa dan Pendidikan Jiwa: Mengendalikan Nafsu dan Emosi”.
Dr. Hasan menyapa mahasiswa dengan gaya komunikatif dan reflektif. Ia menekankan bahwa Ramadan adalah momentum terbesar untuk belajar mengendalikan amarah dan hawa nafsu. “Dalam puasa, kita harus bisa mengendalikan emosi, nafsu, dan amarah,” ujarnya saat membuka tausiyahnya.
Ia lalu menceritakan kisah seorang pemuda yang melakukan perjalanan panjang dan melelahkan demi bertemu Rasulullah SAW. Pemuda itu meminta wasiat agar sukses dunia dan akhirat. Jawaban yang diterima sangat singkat: La taghdob (jangan mudah marah) dan jangan mudah emosi. Ketika pertanyaan tersebut diulang hingga tiga kali, jawabannya tetap sama. Bagi Dr. Hasan, pesan sederhana ini mengandung esensi luar biasa tentang pengendalian diri.
“Perkataan singkat itu mengandung nilai yang sangat tinggi. Jangan marah, jangan emosi. Jika semua aktivitas kita dikerjakan dengan emosi dan hawa nafsu, bisa jadi apa yang kita upayakan justru gagal,” tegasnya.
Bagi mahasiswa, kemampuan mengendalikan emosi menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan studi. Ia menjelaskan bahwa perjalanan akademik dari awal hingga lulus sarjana bukanlah proses singkat dan sarat tantangan. “Bayangkan kalau dari awal kuliah sampai lulus kalian emosi terus, marah terus. Itu bisa menghambat kelancaran dan kesuksesan yang ingin diraih,” katanya.
Sikap sabar, tabah, dan tenang menjadi kunci menghadapi persoalan akademik maupun kehidupan pribadi. Dengan masalah sebesar apa pun, jika dihadapi dengan kepala dingin, akan lebih mudah menemukan solusi. Dr. Hasan menyampaikan bahwa latihan pengendalian diri tidak boleh berhenti di bulan Ramadan saja. Proses menata batin membutuhkan waktu panjang dan kesungguhan.
“Emosi dan nafsu pasti ada dalam diri kita. Tapi kalau tidak bisa mengendalikan, itu justru menjadi musuh besar bagi diri sendiri,” jelasnya.
Ia mengajak mahasiswa untuk terus berproses membangun ketenangan hati dan kestabilan emosi dalam setiap aktivitas. Tidak hanya saat ibadah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Saat menutup tausiyahnya, Dr. Hasan berharap Ramadan menjadi momentum lahirnya pribadi yang lebih matang secara spiritual dan emosional.
“Mudah-mudahan di bulan puasa ini, selain menahan lapar dan dahaga, kita juga mampu menahan emosi dan amarah, sehingga menjadi insan yang sukses dunia dan akhirat,” pungkasnya.
Dengan dua kata ajaib dari Rasulullah, Jangan Marah! Ternyata itulah kunci sukses dunia dan akhirat yang selama ini kita cari dalam hidup di dunia.





