Ramadhan Tidak Halangi Ketahanan Pangan

Aa1xlqxl 2
Aa1xlqxl 2



JAKARTA — Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung menyatakan bahwa selama bulan Ramadhan tidak ada kendala dalam proses penyerapan gabah petani di lapangan.

“Kami terus melakukan penyerapan gabah milik petani secara intensif selama bulan Ramadhan ini, sebagai bagian dari tugas pemerintah dalam rangka memperkuat cadangan pangan nasional,” ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung Rindo Safutra di Bandarlampung, Senin.

Ia menambahkan bahwa pihaknya bersama berbagai pihak terkait tetap berkomitmen menjalankan tugas pemerintah secara maksimal, termasuk pada masa puasa. “Program penyerapan ini merupakan bagian dari target nasional pengadaan sebesar empat juta ton.”

Capaian pengadaan gabah wilayah Lampung saat ini telah mencapai 101 ribu ton gabah kering panen (GKP), atau sekitar 25,58 persen dari target yang ditetapkan untuk periode 2026.

“Target khusus penyerapan untuk Kanwil Lampung pada 2026 sebesar 430 ribu ton gabah kering panen atau sebanyak 253 ribu ton setara beras,” tambahnya.

Menurut dia, memasuki Ramadhan, aktivitas penyerapan gabah tetap berjalan optimal melalui Tim Jemput Pangan yang secara aktif turun ke lapangan untuk melakukan pembelian langsung dari petani di berbagai wilayah kerja.

“Upaya ini menunjukkan komitmen kami dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memastikan ketersediaan pasokan pangan nasional tetap terjaga. Serta memberikan kepastian harga kepada petani melalui pembelian gabah kering panen (GKP) dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai ketentuan pemerintah,” ujarnya.

Ia pun mengimbau seluruh petani maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) agar menjual hasil panennya kepada Bulog dengan ketentuan gabah telah memasuki usia panen yang sesuai standar.

“Langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petani sekaligus mendukung penguatan cadangan pangan pemerintah. Penyerapan gabah yang berlangsung dengan lancar ini tidak terlepas dari kerja sama seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, mitra penggilingan, serta kelompok tani di wilayah Provinsi Lampung,” ucapnya.

Komitmen Bulog Lampung ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan adalah misi yang tak mengenal libur, bahkan di bulan suci Ramadhan sekalipun.

Target Naik 52 Persen, Optimisme Tetap Tinggi

Sementara Lampung fokus pada kontinuitas di tengah Ramadhan, Bulog Cabang Tulungagung, Jawa Timur, menghadapi tantangan yang berbeda: target yang meningkat drastis.

Perum Bulog Cabang Tulungagung menggencarkan penyerapan gabah dan jagung pipil dari petani guna mendukung program swasembada dan ketahanan pangan nasional.

Pemimpin Bulog Cabang Tulungagung Yonas Haryadi Kurniawan mengatakan pada Ahad bahwa tahun ini pihaknya ditargetkan menyerap 64 ribu ton gabah setara beras dan 11 ribu ton jagung pipil.

Target tersebut meningkat sekitar 52 persen dibanding 2025 yang sebesar 42 ribu ton gabah setara beras, sebuah lompatan yang tidak main-main. “Wilayah kerja kami berada di daerah sentra produksi padi dan jagung, sehingga kami optimistis target 2026 dapat tercapai,” ujarnya.

Secara nasional, pada 2026 Bulog ditargetkan menyerap 4 juta ton gabah setara beras dan 1 juta ton jagung pipil, angka yang mencerminkan betapa strategisnya peran Bulog dalam ketahanan pangan nasional.

Yonas menjelaskan, hingga saat ini pihaknya telah menyerap sekitar 15 ribu ton gabah kering panen (GKP) dan 5 ribu ton jagung pipil kering dari petani di Tulungagung.

Penyerapan dilakukan melalui Tim Jemput Pangan yang turun langsung ke sentra produksi, salah satunya di Desa Tanggulkundung, Kecamatan Besuki.

Gabah dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai ketentuan pemerintah, dengan syarat kualitas memenuhi standar, seperti tidak dipanen terlalu muda dan tidak rusak akibat penyimpanan terlalu lama.

“Karena beras ini akan menjadi stok cadangan pangan nasional, kualitas harus benar-benar terjaga,” katanya.

Untuk mengantisipasi lonjakan hasil panen, Bulog Tulungagung juga menyiapkan gudang alternatif selain gudang induk guna memastikan tidak terjadi kendala kapasitas penyimpanan.

Menurut Yonas, capaian serapan tahun ini lebih baik dibanding periode yang sama pada 2025, yang saat itu belum terdapat realisasi signifikan penyerapan gabah dan jagung.

Dengan langkah tersebut, Bulog Tulungagung optimistis dapat memenuhi target serapan sekaligus mendukung ketersediaan cadangan pangan nasional secara berkelanjutan.

Jawa Tengah: Membeli Gabah di Tengah Lumpur Banjir

Jika Lampung menghadapi tantangan waktu (Ramadhan) dan Tulungagung menghadapi tantangan target, maka Bulog di Jawa Tengah menghadapi tantangan alam: banjir.

Perum Bulog membeli sekitar 30 ton gabah dari berbagai areal sawah siap panen di berbagai wilayah di Jawa Tengah yang terdampak banjir sebagai upaya menjaga harga tetap stabil di tengah cuaca ekstrim ini.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto di Semarang, Jumat, mengatakan bahwa pembelian yang dilakukan terhadap gabah terdampak banjir itu tetap sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Ia menyebut secara fisik gabah yang diserap itu terlihat lebih kotor dan berwarna kehitaman akibat tercampur lumpur. Meski demikian, ia memastikan kualitas buliran gabah masih baik dan layak proses mengingat tidak terlalu lama terendam banjir.

“Kalau dilihat bulirannya memang besar-besar karena memang sudah mendekati masa panen,” katanya.

Ia menegaskan komitmen Bulog untuk menyerap gabah petani di wilayah terdampak banjir dengan harga pembelian sesuai HPP. Menurut dia, upaya serupa juga akan dilakukan di daerah lain sepanjang terdapat informasi resmi dari dinas pertanian setempat.

Langkah Bulog ini sangat berarti bagi petani. Ketika banjir datang tepat di masa panen, petani tidak hanya kehilangan sebagian hasil kerja keras mereka, tetapi juga menghadapi risiko harga jatuh karena kualitas gabah yang menurun. Dengan Bulog tetap membeli sesuai HPP, petani terlindungi dari kerugian ganda.

Ia juga mengimbau kepada petani terdampak banjir yang lahan padinya siap panen untuk melakukan penanganan awal sebelum dijual ke Bulog atau mitra penggilingan.

Ia menyarankan gabah yang sebelumnya terendam banjir perlu diangin-anginkan untuk mengurangi kadar air dan kotoran. “Gabah yang terlalu basah atau terlalu banyak kotorannya justru akan merusak mesin pengering,” katanya.

Imbauan praktis ini menunjukkan bahwa Bulog tidak hanya membeli, tetapi juga mendampingi petani dengan pengetahuan teknis agar hasil panen mereka tetap bernilai optimal.

Purbalingga: Ketika Pencurian Gabah Diselesaikan dengan Keadilan Restoratif

Di tengah cerita positif tentang penyerapan gabah, ada satu cerita yang berbeda namun tetap relevan: cerita tentang kerentanan petani dan pendekatan keadilan yang humanis.

Kepolisian Sektor (Polsek) Kemangkon menyelesaikan kasus pencurian gabah di Desa Sumilir, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, melalui pendekatan keadilan restoratif (restorative justice/RJ) setelah korban dan pelaku sepakat berdamai dalam proses mediasi.

“Pendekatan restorative justice dilakukan dengan mengedepankan dialog, mediasi, dan penyelesaian damai yang melibatkan pelaku, korban, serta perangkat desa sebagai unsur masyarakat,” kata Kepala Polsek Kemangkon Ajun Komisaris Polisi Heri Iskandar di Kemangkon, Purbalingga, Kamis.

Penanganan perkara tersebut difasilitasi oleh Polsek Kemangkon menyusul peristiwa pencurian yang terjadi di Desa Sumilir, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, Kamis (26/2) dini hari.

Dalam hal ini, pelaku berinisial MS (39), warga Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, kedapatan mencuri dua karung gabah setara 70 kilogram dengan nilai kurang lebih Rp980 ribu di halaman Masjid An-Nur, Desa Sumilir, sekitar pukul 02.00 WIB.

Korban atas nama Sukedi (57) yang mengetahui kejadian tersebut langsung menangkap pelaku dan melaporkannya ke Polsek Kemangkon.

Lebih lanjut, Kapolsek mengatakan dalam pertemuan mediasi tersebut, pelaku mengakui perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi.

Selain itu, pelaku juga bersedia mengganti kerugian korban atas dua karung gabah yang dicuri.

Sementara itu, korban menyatakan tidak menghendaki perkara dilanjutkan ke proses hukum dan telah memaafkan pelaku.

“Kesepakatan damai tersebut kemudian dituangkan dalam surat pernyataan bersama yang ditandatangani kedua belah pihak dan disaksikan perangkat desa serta kepolisian,” katanya.

Ia mengatakan penyelesaian melalui pendekatan keadilan restoratif tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah hal, antara lain korban tidak ingin membuat laporan resmi, pelaku belum pernah terlibat tindak pidana, serta motif pencurian karena pelaku kesulitan ekonomi dan memiliki kewajiban membayar utang setiap hari Selasa.

“Semoga melalui pendekatan restorative justice yang dilakukan bisa menciptakan keadilan bagi korban dan pelaku bisa jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya,” kata AKP Heri.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka penyerapan gabah, ada realitas sosial ekonomi yang kompleks. Ada petani yang bekerja keras, ada juga warga yang terpaksa mencuri karena kesulitan ekonomi. Pendekatan keadilan restoratif menunjukkan bahwa hukum bisa berjalan beriringan dengan kemanusiaan.

Gabah sebagai Jantung Ketahanan Pangan dan Sosial

Empat cerita dari Lampung, Tulungagung, Jawa Tengah, dan Purbalingga ini membentuk satu narasi besar tentang gabah sebagai jantung ketahanan pangan sekaligus cermin kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pertama, komitmen tanpa henti. Bulog Lampung membuktikan bahwa misi ketahanan pangan tidak mengenal libur. Bahkan di bulan Ramadhan, Tim Jemput Pangan tetap turun ke lapangan, membeli gabah dengan harga yang adil (Rp6.500/kg), dan menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Kedua, ambisi yang terukur. Bulog Tulungagung menunjukkan bahwa target yang tinggi (naik 52 persen) bukan sekadar angka ambisius, tetapi didukung dengan strategi konkret: penyiapan gudang alternatif, kontrol kualitas yang ketat, dan kerja sama dengan sentra produksi.

Ketiga, kepedulian di tengah bencana. Bulog Jawa Tengah membuktikan bahwa kebijakan penyerapan gabah bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kemanusiaan. Dengan tetap membeli gabah terdampak banjir sesuai HPP, Bulog melindungi petani dari kerugian ganda dan memberikan harapan di tengah musibah.

Keempat, keadilan yang humanis. Kasus pencurian gabah di Purbalingga mengingatkan bahwa di balik setiap karung gabah, ada kehidupan manusia dengan segala kompleksitasnya. Pendekatan keadilan restoratif menunjukkan bahwa hukum bisa dijalankan dengan tetap menjaga kemanusiaan dan memberikan kesempatan kedua.

Meski capaian penyerapan gabah menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada. Cuaca ekstrim seperti banjir bisa datang kapan saja. Target nasional 4 juta ton gabah setara beras bukan angka yang mudah dicapai. Dan di tingkat sosial, kerentanan ekonomi masih membuat sebagian warga terpaksa mengambil jalan pintas yang melanggar hukum.

Yang diperlukan adalah konsistensi. Konsistensi dalam menjaga harga pembelian pemerintah agar petani tidak dirugikan. Konsistensi dalam menjaga kualitas gabah agar cadangan pangan nasional benar-benar berkualitas. Konsistensi dalam kerja sama dengan pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.

Yang tidak kalah penting: kepedulian terhadap dimensi sosial ekonomi. Ketahanan pangan bukan hanya soal angka ton gabah yang diserap, tetapi juga soal keadilan bagi petani, perlindungan di saat bencana, dan pendekatan humanis terhadap mereka yang terpaksa melanggar hukum karena desakan ekonomi.

Dari sawah yang hijau di Lampung, dari gudang yang penuh di Tulungagung, dari lumpur banjir di Jawa Tengah, hingga ruang mediasi di Purbalingga, semua adalah bagian dari satu misi besar: memastikan bahwa rakyat Indonesia tidak kelaparan, petani tidak dirugikan, dan keadilan tetap tegak dengan tetap menjaga kemanusiaan.

Itulah makna sejati dari ketahanan pangan: bukan hanya pangan yang cukup, tetapi juga keadilan yang terjaga.

Pos terkait