Ramlan Amrain, Adik Leting Mantan Gubernur Gorontalo di STKS Bandung

Aa1xhhwf
Aa1xhhwf

Lurah Tenilo, Ramlan Amrain: Kepemimpinan yang Tulus dan Berakar

Ramlan Amrain kini mengemban amanah baru sebagai Lurah Tenilo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Ia resmi dilantik oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi di Aula BKPSDM Kabupaten Gorontalo, Jumat (27/2/2026). Sebagai alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung (sekarang Poltekesos), Ramlan memiliki rekam jejak birokrasi yang luas.

Dikenal dengan prinsip melayani dengan tulus dan tetap membumi, Ramlan menyebut dirinya “adik leting” dari mantan Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie. Meskipun demikian, ia lebih fokus pada pengabdian masyarakat daripada posisi atau jabatan.

Jejak Pendidikan dan Perjalanan Hidup

Lahir di Gorontalo, 7 Juni 1981, Ramlan Amrain adalah putra dari Ahmad M Amrain dan Latifa Idris Kasim. Ia menghabiskan masa kecilnya di Isimu dan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Setelah lulus dari SMA 1 Tibawa pada tahun 2000, Ramlan awalnya bercita-cita menjadi anggota TNI. Ia bahkan sempat bertolak ke Manado untuk mengikuti seleksi. Namun, sebuah mimpi unik menjadi pertanda garis hidupnya.

“Waktu seleksi, saya mimpi hendak menyeberangi sungai tapi tidak bisa. Akhirnya saya naik menara. Teman-teman yang lulus justru merangkak di bawah, sementara saya sudah di puncak menara itu,” ujar Ramlan kepada media, Sabtu (28/2/2026). Mimpi itu ia maknai sebagai isyarat bahwa jalannya bukan di militer, melainkan di pengabdian masyarakat yang lebih tinggi secara struktural sipil.

Setelah sempat mencicipi sekolah pelayaran di Makassar, nasib membawanya menjadi ASN pada tahun 2006. Ramlan mendapatkan tugas belajar ke STKS Bandung pada tahun 2008 hingga lulus tahun 2012, memperkuat spesialisasinya di bidang kesejahteraan sosial. Ia menikahi Ekie Potale dan dikaruniai seorang anak bernama Siti Nurfadilah Amrain yang kini duduk di bangku kelas 5 SD.

Rekam Jejak Birokrasi

Sebelum dipercayakan memimpin Kelurahan Tenilo, Ramlan telah “makan asam garam” di berbagai instansi, terutama di Kabupaten Boalemo. Kariernya membentang luas mulai dari staf di Kesbangpol, diperbantukan di KPU, hingga terjun ke Dinas Sosial dan Perindag. Pengalamannya kian terasah saat bertugas di BNN Kabupaten Boalemo (2014-2019) pada bagian rehabilitasi.

Ia juga pernah mencicipi posisi strategis di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan di era Bupati Darwis Moridu, hingga menjabat Kasubag Keuangan serta Kepala Seksi di berbagai dinas. “Setelah lama bertugas di luar, saya akhirnya memohon pindah pulang kampung ke Limboto,” ungkapnya.

Tak lama setelah pindah, ia mengikuti seleksi terbuka jabatan lurah pada Januari 2026 dan berhasil menyisihkan puluhan kandidat lainnya.

Visi Tenilo: Bebas Banjir dan Kelola Sampah

Sebagai Lurah Tenilo yang baru, Ramlan membawa misi konkret. Prioritas utamanya adalah penanganan masalah klasik di wilayahnya: banjir dan sampah. Pria berdomisili di Kayubulan ini berencana membentuk Kelompok Peduli Sampah Terpadu (KPST).

“Konsepnya adalah membentuk kelompok sadar sampah. Untuk banjir, saya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kecamatan guna memastikan pembangunan tanggul dan drainase berjalan optimal,” tegas Ramlan. Menariknya, saat ditanya mengenai harapan untuk warganya, Ramlan menyampaikan doa yang menyentuh.

“Saya berharap di masa jabatan saya, masyarakat Tenilo diberikan umur panjang oleh Allah. Saya berdoa tidak ada kematian, dalam artian masyarakatnya sehat dan sejahtera,” tuturnya.

Filosofi Kepemimpinan

Bagi Ramlan, kepemimpinan adalah soal melayani, bukan dilayani. Ia memegang prinsip integritas dan profesionalitas yang kuat. Ia memiliki filosofi yang cukup dalam mengenai kekuasaan. Menurutnya, seorang birokrat tidak boleh meletakkan jabatan di dalam hati karena bisa menimbulkan kesombongan.

“Letakkan jabatan itu di telapak tangan, bukan di hati. Karena kalau di tangan, suatu saat akan mudah dilepaskan tanpa rasa sakit atau keangkuhan. Dengan begitu, kita akan melayani masyarakat dengan tulus,” jelas pria yang memiliki hobi sepak bola ini.

Meski kini sibuk dengan urusan administrasi kelurahan, Ramlan tetap menjaga sisi religius dan sosialnya. Di luar jam kerja, ia aktif mengikuti majelis taklim, zikir, dan tahlilan bersama warga. Bahkan, ia tak segan turun ke sawah atau ladang untuk membantu para petani jagung dan padi.

“Itu cara saya tetap dekat dengan akar rumput. Melihat mereka sehat dan sejahtera adalah kepuasan tersendiri bagi saya,” pungkasnya.

Pos terkait