Proyek Liquefied Natural Gas (LNG) di Blok Masela, yang dikelola oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), telah menjadi perhatian khusus sejak lama. Proyek strategis nasional ini sudah mandek selama lebih dari dua dekade dan memiliki nilai investasi mencapai US$ 20,94 miliar atau sekitar Rp 351,79 triliun. Sejak 1998, proyek ini terus mengalami penundaan tanpa kemajuan signifikan.
Blok Masela diperkirakan akan menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35 ribu barel kondensat per hari. Proyek yang berada di wilayah Maluku ini ditargetkan mulai berproduksi pada 2029 mendatang. Namun, hingga saat ini, belum ada kejelasan apakah RATU akan melibatkan diri dalam proyek tersebut.
Direktur Utama RATU, Sumantri, mengakui bahwa Blok Masela merupakan salah satu blok gas terbesar di Indonesia dengan cadangan diperkirakan mencapai sekitar 11 trillion cubic feet (TCF). Blok ini sebelumnya melibatkan beberapa perusahaan besar seperti Inpex Masela Ltd, Petroliam Nasional Berhad (Petronas), hingga PT Pertamina (Persero).
“Blok Masela sudah lama sekali tertunda. Kami belum ada proyeksi untuk melihat Blok Masela,” kata Sumantri dalam sesi diskusi virtual bertema “Potensi Emiten RATU di Era Ketahanan Energi”.
Menurut Sumantri, RATU belum melirik proyek itu karena hingga saat ini belum ada mitra yang berencana melepas participating interest (PI). Selain itu, RATU juga belum melihat potensi produksi dalam waktu dekat dari proyek tersebut.
Sumantri menegaskan bahwa perseroan tidak bisa menunggu terlalu lama hingga suatu aset mulai menghasilkan arus kas karena hal itu bisa menekan cash flow perusahaan. “Kami totally belum ada visibility ke arah sana kalau Blok Masela, ya,” tambahnya.
Perolehan Hak Partisipasi di Blok Madura Strait
Sebelumnya, RATU berhasil memenangkan hak partisipasi 20% di Blok Madura Strait. Kontribusi aset migas tersebut diperkirakan mulai tercermin dalam kinerja keuangan perseroan pada kuartal kedua 2026.
Adapun RATU menjadi pemenang tender akuisisi 100% saham SMS Development Limited (SMSDL). Perusahaan ini secara tidak langsung menggenggam 20% partisipasi di Husky CNOOC Madura Limited (HCML), kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Blok Madura Strait.
Direktur RATU Adrian Hartadi menjelaskan bahwa secara substansi kontribusi Blok Madura terhadap keuangan perseroan sebenarnya sudah berjalan sejak 1 Januari 2026. Namun, penetapan pemenang tender belum memberikan dampak material karena belum diikuti dengan perjanjian mengikat maupun persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).
“Jadi efek keuangan itu sudah ada dari 1 Januari 2026. Cuman belum efektif aja. Tinggal berlaku nanti pada semester 1,” kata Adrian dalam diskusi RATU Prospects and Challenges in the Future yang digelar secara virtual, Kamis (22/1).
Meskipun demikian, Adrian menyatakan belum dapat menyebutkan berapa persen potensi kenaikan laba bersih dan pendapatan perseroan pada tahun ini setelah masuk di Blok Madura Strait.
Manajemen RATU menargetkan RUPS digelar pada 7 Mei 2026. Jika mendapat persetujuan pemegang saham, kontribusi Blok Madura akan mulai dicatat dalam laporan keuangan kuartal II 2026. Meski demikian, Adrian menyatakan bahwa dalam kontrak kerja sama (CSP) yang dimiliki RATU, kontribusi tersebut sudah efektif sejak awal tahun.





