Ratusan Pelayat Ikut Salat Jenazah Try Sutrisno di Masjid Agung Sunda Kelapa

Jenazah Galang Mahasiswa Ipb Diantar Ratusan Pelayat 1
Jenazah Galang Mahasiswa Ipb Diantar Ratusan Pelayat 1

Ratusan Pelayat Hadiri Salat Jenazah Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno

Pada Senin (2/3/2026), suasana haru dan khidmat menyelimuti Masjid Agung Sunda Kelapa saat jenazah Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, disalatkan sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ratusan pelayat telah memadati area masjid untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh militer sekaligus negarawan tersebut.

Peti jenazah berwarna putih yang diselimuti bendera Merah Putih tiba di dalam masjid dan langsung disiapkan untuk pelaksanaan salat jenazah. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah tokoh nasional turut hadir, termasuk Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin serta Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla yang ikut menunaikan salat jenazah bersama para pelayat.

Suasana hening terasa ketika ratusan jamaah berdiri rapat, mengiringi doa-doa yang dipanjatkan untuk almarhum. Kehadiran para tokoh lintas generasi mencerminkan penghormatan besar atas pengabdian panjang Try Sutrisno bagi bangsa dan negara. Sejumlah tokoh politik dan pejabat juga tampak hadir, seperti Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat, serta Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 Sutiyoso.

Usai salat jenazah, prosesi dilanjutkan dengan penyerahan jenazah dari pihak keluarga kepada negara dalam upacara militer. Panglima TNI Agus Subianto memimpin langsung prosesi tersebut, menandai penghormatan negara atas jasa dan pengabdian almarhum. Dengan iringan doa para pelayat, jenazah kemudian diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata untuk dimakamkan secara militer.

Prosesi berlangsung penuh penghormatan, meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat yang hadir melepas kepergian salah satu putra terbaik bangsa.

Perjalanan Hidup yang Menarik

Kisah hidup Try Sutrisno adalah potret perjalanan panjang dari kehidupan sederhana menuju puncak kekuasaan negara. Lahir bukan dari keluarga elite, ia pernah menjadi penjual rokok, loper koran, hingga pedagang air minum di stasiun sebelum akhirnya menjabat Wakil Presiden RI ke-6 periode 1993–1998.

Mantan ajudan Presiden Soeharto ini tak lahir dari keluarga elite, namun justru meniti karier dari bawah—pernah jadi penjual rokok, loper koran, hingga pedagang air minum di stasiun. Namun siapa sangka, lelaki kelahiran Surabaya, 15 November 1935, itu kemudian menjelma menjadi Wakil Presiden RI ke-6, mendampingi Soeharto pada periode 1993–1998.

Ironisnya, dia justru bukan sosok yang diinginkan oleh Soeharto sendiri untuk posisi strategis itu. Karier militer Try Sutrisno dimulai tahun 1956 saat dia diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Hanya setahun menimba ilmu, ia sudah diterjunkan langsung ke medan tempur, memperlihatkan dedikasi dan keberaniannya sejak muda.

Namanya makin diperhitungkan saat menjabat Panglima ABRI, posisi yang membuatnya begitu dekat dengan struktur kekuasaan Orde Baru. Dia juga dikenal sebagai ajudan Soeharto pada periode sebelumnya, namun kedekatan itu tak lantas membuatnya jadi pilihan utama sang Presiden.

Bukan Pilihan Soeharto: Bagaimana Try Sutrisno Justru Dipilih Jadi Wapres?

Pada 1993, BJ Habibie yang kala itu menjabat Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan dikenal sebagai teknokrat ulung, menjadi kandidat kuat Wakil Presiden. Dia bahkan mendapat dukungan dari partai berbasis Islam seperti PPP. Namun di sisi lain, kalangan ABRI punya agenda sendiri. Mereka mendorong Try Sutrisno, sosok yang secara struktur militer lebih bisa diterima sebagai pendamping Soeharto.

Akhirnya, dalam proses politik yang kompleks, Try-lah yang naik mendampingi RI 1, meskipun tanpa restu langsung dari Presiden Soeharto.

Masa Kecil Penuh Perjuangan

Tak banyak yang tahu, masa kecil Try dipenuhi kisah getir. Dia bukan anak jenderal, bukan pula keturunan bangsawan. Untuk membantu keluarganya, ia harus berjualan air minum di stasiun, menjadi loper koran, hingga penjual rokok keliling. Latar hidup sederhana itu menjadikan Try figur yang tak pernah lupa akar perjuangan rakyat kecil, bahkan saat dirinya sudah menjabat sebagai orang nomor dua di republik ini.

Kisah Try Sutrisno adalah refleksi nyata bahwa jalan menuju kekuasaan bisa hadir dari rute yang tak terduga. Meski bukan pilihan utama Soeharto, dia membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi, dan kerja keras bisa mengantar siapa pun ke panggung tertinggi republik, dari penjual air minum menjadi Wakil Presiden RI.

Biografi Singkat

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Istri almarhum bernama Tuti Sutiawati.

Jejak Karier Militer

Try Sutrisno meniti karier panjang di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain:
* Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) (1986–1988)
* Panglima ABRI (kini TNI) (1988–1993)
* Ketua Umum PBSI (1985–1993)

Karier Politik

  • Wakil Presiden RI ke-6 (11 Maret 1993 – 11 Maret 1998)
  • Menggantikan Soedharmono
  • Digantikan oleh B. J. Habibie

Pernah berafiliasi dengan Partai Golkar dan PKP.

Pos terkait