Fikih Kedaulatan Pangan Muhammadiyah Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Pertanian Monokultur

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURABAYA – Peningkatan produksi pangan yang mengabaikan kelestarian lingkungan berisiko menimbulkan persoalan baru bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, Muhammadiyah memasukkan keseimbangan ekologis dan pengembangan sistem pertanian agroekologi sebagai bagian penting dalam perumusan fikih kedaulatan pangan.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Moh. Shoehada mengungkapkan hal tersebut dalam Seminar Nasional Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (5/11). Menurutnya, pengalaman pembangunan pertanian di Indonesia memperlihatkan bahwa dorongan meningkatkan produksi pangan dapat menyisakan dampak ekologis yang serius.
Shoehada mencontohkan program Revolusi Hijau pada masa Orde Baru. Program yang dijalankan melalui pembangunan lima tahun hingga Pelita VI itu berhasil mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984. Namun, model intensifikasi pertanian yang dikembangkan juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan dan keragaman pangan.
Kutipan awal dari Muhammadiyah, ditulis oleh timredaksi. Hak cipta artikel milik penerbit.




