Rektor UI Sarankan 5 Sikap Politik Indonesia Terhadap Serangan AS-Israel ke Iran

Aa1xi0su 1
Aa1xi0su 1

Eskalasi Konflik Timur Tengah Akibat Serangan Amerika dan Israel ke Iran

Di tengah situasi yang memanas di kawasan Timur Tengah, serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran, Iran, pada hari Sabtu (28/2/2026) telah memicu eskalasi konflik yang semakin mengkhawatirkan. Iran dilaporkan merespons dengan meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut, menunjukkan pergeseran dalam dinamika konflik yang kini melibatkan kekuatan global.

Langkah Politik yang Disarankan oleh Ahli Hukum Internasional

Sebagai tanggapan terhadap situasi ini, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menyampaikan lima langkah politik yang sebaiknya diambil oleh Pemerintah Indonesia. Pertama, Indonesia harus secara tegas mengutuk serangan Israel yang memulai peperangan. Hal ini didasarkan pada Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB yang menyatakan bahwa negara wajib menahan diri dari penggunaan kekerasan terhadap teritorial integritas wilayah negara lain.

Kedua, Indonesia diminta untuk meminta AS menahan diri dalam pelibatan serangan Israel agar konflik tidak semakin meluas. Ketiga, Indonesia mendorong Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) segera menggelar sidang darurat guna membahas eskalasi konflik. Keempat, Indonesia juga perlu mendraf resolusi untuk dibahas di Majelis Umum PBB. Kelima, Indonesia meminta Chairman BoP, Donald Trump, segera mengambil langkah dan menggelar rapat darurat BoP guna membahas penghentian serangan.

Warga Berlarian Menghindari Rudal

Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, Sabtu (28/2/2026). Serangan ini terjadi hanya beberapa waktu setelah Israel menggempur wilayah Iran, memperlihatkan eskalasi cepat yang kini berpotensi menyeret kekuatan global ke dalam konflik terbuka.

Iran menargetkan instalasi militer Amerika Serikat di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, negara-negara yang selama ini menjadi titik tumpu kehadiran militer Washington di kawasan strategis Timur Tengah. Serangan tersebut menandai perubahan signifikan dalam pola respons Teheran, yang kali ini tidak hanya mengarah pada Israel, tetapi langsung menyasar kepentingan militer Amerika.

Pemerintah Bahrain mengonfirmasi bahwa markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi salah satu target serangan rudal. “Pusat layanan Armada Kelima menjadi sasaran serangan rudal. Detail lebih lanjut akan disampaikan kemudian,” kata Pusat Komunikasi Nasional Bahrain, dikutip AFP. Pusat Komunikasi Nasional Bahrain menyebut fasilitas layanan armada tersebut terkena sasaran, meski rincian kerusakan dan korban belum diumumkan.

Armada Kelima merupakan komando utama Angkatan Laut AS yang bertanggung jawab atas operasi keamanan maritim di Teluk Persia hingga Laut Arab. Basis ini selama puluhan tahun menjadi simbol dominasi militer Amerika sekaligus instrumen pengawasan terhadap Iran.

Di Qatar, Kementerian Pertahanan menyatakan sistem pertahanan udara Patriot berhasil mencegat rudal yang mengarah ke wilayahnya. Namun, ledakan tetap terdengar di Doha, menunjukkan intensitas serangan yang cukup tinggi meski sebagian proyektil berhasil dihentikan. Laporan kantor berita Reuters menyebutkan dentuman keras juga mengguncang Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Situasi tersebut memicu respons cepat negara-negara Teluk yang secara serentak menutup wilayah udara mereka sebagai langkah mitigasi risiko keamanan. Pengamat hubungan internasional menilai langkah Iran menyerang fasilitas Amerika menunjukkan pesan strategis bahwa konflik tidak lagi terbatas pada konfrontasi Iran-Israel.

Dengan menyerang aset militer AS, Teheran berupaya meningkatkan tekanan geopolitik sekaligus menciptakan efek penangkal terhadap kemungkinan serangan lanjutan. Namun strategi ini juga membawa risiko besar. Keterlibatan langsung aset Amerika Serikat membuka peluang respons militer yang lebih luas, yang dapat mengubah konflik regional menjadi krisis internasional berskala besar.

Hingga Sabtu malam waktu setempat, Washington belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah balasan. Ketidakpastian respons AS kini menjadi faktor kunci yang menentukan apakah eskalasi akan mereda melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi konfrontasi militer terbuka di Timur Tengah.

Pos terkait