Kehadiran Remaja dalam Ritual Shalat di Masjid HM Takdir Hasan Saleh
Pagi itu, shalat Subuh baru saja dimulai. Di Masjid HM Takdir Hasan Saleh, belasan pria dewasa dan remaja mengisi shaf terakhir bagian depan masjid. Ustad Suardi Palasa mulai membaca ayat ke-7 dan ke-8 Surat al-Baqarah. Shaf ketiga belum sepenuhnya terisi, dengan 17 orang yang hadir. Di balik tirai pembatas, lima perempuan dewasa tampak samar dari lubang angin dinding tengah masjid.
Alumnus UIN Alauddin Makassar itu mengiringi al-Fatihah dengan dua belas ayat pertama Surat al-Baqarah. Bacaan tenang dan tidak tergesa-gesa. Pagi itu cuaca sangat bersahabat, tak ada rintik hujan atau angin bertiup. Jalan Daeng Tata IV masih menyisakan genangan air, sisa hujan semalam. Namun air itu tak lagi merepotkan. Sendal setinggi dua sentimeter cukup menjaga telapak kaki tetap kering.
Tujuh pria dan dua perempuan di shaf belakang bertahan duduk di dalam masjid hingga lewat pukul 05.30 Wita. Ini hari ke-10 Ramadhan. Sebagian besar jamaah adalah orang-orang yang sama pada Shalat Isya dan Tarawih sembilan jam sebelumnya. Jumlahnya sekitar 60 orang.
Pada malam ke-10 Ramadhan 1447 H, pengurus Masjid HM Takdir Hasan Saleh menampilkan Andi Alvisyahri Nilam Kusuma sebagai MC. Ia menyilakan M Adzam ke mimbar untuk ceramah. “Yang akan menyampaikan tausiah Ramadhan pada malam ini adalah Ustad M Adzam, santri PDT DDI Mangkoso,” kata Alvi.
M Adzam masih duduk di kelas dua Madrasah Tsanawiyah, setara kelas dua SMP. Namun malam itu ia berbicara hampir tiga puluh menit. Tenang dan terstruktur. “Sebelum saya tutup ceramah ini, saya sampaikan ungkapan bijak dalam bahasa Arab mengatakan انظر الي من قيل ولا تنظر الي من قال, artinya perhatikan apa yang dikatakan, jangan perhatikan pada siapa yang mengatakan. Bisa jadi yang mengatakan adalah orang yang punya kapasitas biasa-biasa saja, tapi yang disampaikan penting untuk diperhatikan,” kata M Adzam.
Tanpa penjelasan lagi, remaja setinggi sekitar 170 CM itu menutup ceramahnya dengan pernyataan simbolik khas santri Pondok Pesantren DDI Mangkoso sejak era tahun 2000-an, بالله الدعوةً والاوشاد, kemudian klosing “Assalamu Alaikum Warahmatullah Wa Barakatuh”.
Peran Remaja dalam Kegiatan Masjid
Setelah ceramah, M Adzam langsung memimpin Shalat Tarawih delapan rakaat. Usai Tarawih, Adzam menyerahkan kembali mikrofon imam kepada Ustad Suardi Palasa untuk memimpin Witir. Jamaah pun berangsur meninggalkan masjid.
Di ruang tengah masjid, Sekretaris Pengurus Andi Arwijaya, Wakil Bendahara Taslim Adnan, penasihat HM Ilyas, Mansur, Andi Alvi, Faika Nurhusna, dan Mutia Salsabila membentuk lingkaran kecil. Adzam diminta tetap duduk bersama mereka. Adri datang membawa teko plastik berisi teh manis. Mansur menuju kulkas mini di depan tangga lantai dua, lalu kembali dengan dus berisi aneka kue. “Sisa-sisa buka puasa,” katanya, disambut tawa ringan.
Rapat kecil itu berlangsung santai. Bukan rapat formal. Lebih mirip obrolan keluarga. Di sela-sela bincang, Mutia Salsabila diminta naik mimbar untuk latihan menjadi MC. Siswi SMK 4 Makassar itu mengulang dua kali. “Mantap. Sudah oke. Kuncinya, jangan lihat mata jamaah. Lihat saja ujung-ujung kepalanya,” pesan HM Ilyas.
Ruang Pembentuk Kebiasaan
Pensiunan bankir itu bukan orang baru dalam urusan masjid. HM Ilyas kenyang pengalaman mengurus masjid. Pengalamannya terbentang dari Takkalasi Kabupaten Barru Sulawesi Selatan hingga Kalimantan dan Jawa lalu menetap di Griya Tata Asri. HM Ilyas juga pernah menjadi ketua pengurus ketika masjid di Jalan Daeng Tata IV ini masih bernama Masjid Silaturrahim.
Di masjid itu, remaja tidak diposisikan sebagai penonton. Mereka tidak hanya duduk di shaf belakang. Mereka diberi peran, diberi panggung, sekaligus diberi ruang untuk belajar. Tanpa tekanan untuk tampil sempurna.
Dalam kajian sosiologi, ruang seperti ini sering disebut sebagai ruang pembentuk kebiasaan. Bukan ruang lomba, bukan ruang unjuk diri. Ruang di mana seseorang boleh mencoba, salah, lalu diperbaiki bersama. Masjid tidak menuntut remaja menjadi tokoh besar. Ia hanya menyediakan tempat agar mereka tidak tercerabut dari ritme sosialnya sendiri.
Kesederhanaan yang Bertemu dengan Ilmu
Pengakuan jujur M Adzam dalam tausiah billisan tentang “perhatikan apa yang diucapkan, jangan lihat siapa yang menucapkan” adalah pengakuan kapasitas diri dan pentingnya isi pesan. Pengakuan jujur M Adzam ketika menutup ceramah tarawih di Masjid HM Takdir Hasan Saleh itu sejalan dengan tausiah bil-kitabah Prof Dr Abdul Rauf M Amin MA di Kolom Mutiara Ramadhan Tribun Timur edisi 28 Februari 2026.
Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu menulis dengan judul Dua Versi Beragama Maqasid-Based. Seperti sembilan tulisan sebelumnya, bahasannya kontekstual dan berpijak pada realitas umat. “Ini bukan soal puasa dan lebaran dua versi,” tulis Prof Rauf. “Soal itu sudah selesai. Ini soal bagaimana cara kalangan awam dan ulama beragama.”
Ia mengingatkan kecenderungan mutakhir: semua orang merasa punya cara yang sama dalam memahami agama. Padahal, kapasitas tiap orang berbeda. Menyamakan semuanya justru berisiko membuat cara beragama menjadi serba bingung.
Makna Paling Jujur Habitut Ramadhan
Apa yang terjadi di Masjid HM Takdir Hasan Saleh malam dan subuh itu seperti potret kecil dari gagasan Prof Rauf. Ada remaja yang sadar kapasitasnya, ada jamaah yang setia hadir, ada pengurus yang merawat suasana, ada perempuan yang bertahan hingga witir, bahkan subuh.
Di titik ini, masjid tidak bekerja sebagai panggung unjuk kesalehan. Ia hadir sebagai ruang aman: tempat orang beribadah sesuai kemampuannya, tanpa harus menjadi siapa-siapa. Kesederhanaan itu bukan kemiskinan makna. Justru di sanalah agama bekerja dengan tenang. Teratur. Tidak gaduh.
Dan mungkin, di situlah makna paling jujur dari Habitus Ramadhan: setiap orang berada di posisinya, saling menguatkan, tanpa perlu saling menegasikan.
Praktik yang Nyata
Prof Rauf menulis tentang dua cara beragama yang sama-sama sah, tetapi berbeda jalur. Ada yang beragama dengan otoritas keilmuan, ada yang beragama dengan mengikuti otoritas itu. Dalam bahasa yang lebih sederhana: tidak semua orang harus berdiri di posisi yang sama. Tidak semua harus menafsir. Sebagian cukup mengikuti dengan tertib.
Perbedaan peran itu bukan kelemahan, melainkan cara menjaga agar agama tetap bekerja dengan tenang. Di Masjid HM Takdir Hasan Saleh, gagasan itu terasa hidup, bukan sebagai teori, melainkan sebagai praktik. Remaja tidak dipaksa menjadi ulama. Mereka juga tidak diperlakukan sebagai anak kecil yang harus terus diatur. Mereka ditempatkan di antara: belajar berbicara, belajar memimpin, belajar mendengar.
Masjid ini tidak sedang mencetak generasi ideal. Ia sedang merawat generasi yang nyata, dengan segala keterbatasannya. Di tengah dunia yang menuntut segalanya serba tampil dan serba cepat, masjid ini justru berjalan pelan.
Tidak ada tepuk tangan berlebihan. Tidak ada pujian yang dibuat-buat. Yang ada adalah kehadiran yang terus diulang. Malam demi malam. Pagi demi pagi. Siang demi siang. Sore demi sore. Petang demi petang.
Di situlah habitus Ramadhan bekerja. Bukan lewat slogan. Bukan lewat target. Melainkan lewat kebiasaan kecil yang dijaga bersama. Dan di antara kebiasaan itu, remaja perlahan menemukan tempatnya. Masjid sejatinya jadi tempat tak melelahkan. Menjauhkan warga dari burnout society dan menyelamatkan anak-anak dan remaja dari anxious generation.





