Renungan Harian Katolik: Mengasihi Musuh
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perbedaan. Tidak bisa dihindari bahwa kita sering kali harus berada di tengah-tengah orang-orang yang tidak cocok dengan kita. Hal ini bisa terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, dalam komunitas, bahkan mungkin dalam keluarga sendiri.
Perbedaan karakter atau ketidakcocokan dalam komunikasi bisa menyebabkan rasa sakit dan kesedihan. Akibatnya, masing-masing pihak merasa terluka, bahkan sampai pada tingkat benci dan dendam. Keadaan seperti ini pasti sangat mengganggu kesejahteraan jiwa dan hubungan antar sesama.
Ketika permusuhan terjadi, seseorang bisa merasa seperti hidup di neraka. Orang lain yang seharusnya menjadi saudara atau keluarga justru dianggap sebagai musuh. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk menjadi murid-murid-Nya yang luar biasa. Ia meminta kita untuk sempurna, sama seperti Bapa di surga adalah sempurna.
Cara untuk mencapai kesempurnaan itu adalah dengan mengasihi orang yang tidak mengasihi kita, dan memberi salam kepada orang yang mengabaikan kita. Yesus menegaskan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Perintah ini terdengar indah, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Bagaimana mungkin kita bisa mendoakan orang yang membenci kita? Bagaimana mungkin kita bisa mencintai orang yang mengkhianati atau menyakiti kita?
Bagaimana mungkin kita bisa mengampuni ketika hati masih diselimuti oleh kebencian, kemarahan, dan semangat balas dendam? Kuncinya ternyata satu: kasih. Kasih memampukan kita untuk memaafkan bukan hanya sekali atau tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali, yang artinya tidak terhingga.
Kasih memampukan kita untuk berdamai, sehingga kita bisa memulai kembali hubungan yang retak karena permusuhan. Kasih memampukan kita untuk mencintai dan menerima orang-orang yang menyebalkan. Dengan memiliki kasih seperti itu, kita meneladan Bapa yang memberikan matahari bukan hanya untuk orang benar, tetapi juga untuk mereka yang tidak benar; menurunkan hujan tidak hanya untuk orang baik, tetapi juga untuk mereka yang tidak baik.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk semakin sempurna dalam perbuatan-perbuatan baik. Kita menjadikan kasih sebagai ukuran kesempurnaan diri kita masing-masing, sebagaimana Allah mengasihi kita dengan sempurna. Ia mengasihi kita semua tanpa membeda-bedakan.
Marilah kita sejenak meneliti batin kita: masih adakah orang-orang yang kita musuhi atau memusuhi kita? Masih adakah orang-orang yang kita benci atau membenci kita? Jadilah murid Yesus yang luar biasa, yakni dengan mendekati, menerima, dan mencintai orang-orang di sekitar kita yang sedang bermusuhan dengan kita.
Doa
Tuhan Yesus, ajaran-Mu tentang kasih begitu tinggi dan sulit. Aku mengakui hatiku masih mudah terluka dan menutup diri. Ajari aku mengasihi lebih luas, mendoakan yang menyakitiku, dan tidak membalas dengan kebencian. Bentuk hatiku menjadi serupa dengan hati-Mu — penuh kasih tanpa syarat. Amin.
Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Sabtu, Hari ke 10 Masa Prapaskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus…Amin.





