Reza Pahlavi Dukungan AS Bentuk Pemerintahan Baru, Dubes Iran Beri Komentar

Aa1xod6m
Aa1xod6m

Pernyataan Dubes Iran Mengenai Kehadiran Reza Pahlavi dalam Pemberitaan Barat

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan terkait kemunculan Reza Pahlavi dalam pemberitaan media Barat. Menurutnya, pemerintah Iran tidak menganggap serius isu yang muncul tersebut, terutama karena kaitannya dengan dinamika politik di negara tersebut.

Pernyataan ini disampaikan oleh Boroujerdi dalam konferensi pers yang digelar di Kediaman Duta Besar Republik Islam Iran, Jl. Madiun No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (2/3/2026). Ia menjawab pertanyaan mengenai dugaan propaganda Amerika Serikat melalui media yang memunculkan kembali figur keturunan Shah Iran tersebut.

Boroujerdi mengaitkan isu ini dengan sejarah hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, khususnya peristiwa kudeta tahun 1953. Ia menilai bahwa Amerika Serikat pernah melakukan hal serupa pada masa itu, yaitu mencoba menyerang demokrasi di Iran dengan mengembalikan Shah Iran ke kekuasaan.

“Saya rasa mereka sudah pernah melakukan hal ini pada tahun 1953 melalui sebuah kudeta. Amerika Serikat mencoba untuk menyerang demokrasi di negara kami dengan mengembalikan Shah Iran pada saat itu,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan niat Amerika Serikat jika benar-benar ingin mendukung demokrasi di Iran. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan AS justru bertentangan dengan harapan tersebut.

“Apabila memang mereka adalah pihak yang mengharapkan demokrasi bagi Iran, mengapa masyarakat Iran harus turun ke jalanan pada tahun 1979 melalui sebuah revolusi untuk menjatuhkan pemerintahan Shah di sana?” katanya, merujuk pada Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan monarki.

Pertanyaan tentang Legitimasi Figur yang Muncul

Boroujerdi juga mempertanyakan legitimasi moral dari figur yang muncul di tengah konflik dan pengeboman. Ia mengajukan pertanyaan yang mengejutkan, yaitu apakah mungkin ada orang Iran yang berharap pengeboman terjadi terhadap negaranya, lalu menantikan negaranya setelah dihancurkan dan dibom oleh Amerika Serikat diserahkan kembali kepada mereka.

“Tentu mungkinkah terdapat orang Iran yang berharap pengeboman terjadi terhadap negaranya, kemudian mereka menantikan negaranya setelah dihancurkan dan dibom oleh Amerika Serikat diserahkan kembali kepada mereka?” ujarnya.

Ia kemudian menganalogikan situasi tersebut dengan Indonesia, dengan menyatakan bahwa tidak mungkin ada warga negara Indonesia yang mengharapkan serangan terhadap negaranya. Ia menegaskan bahwa orang-orang seperti itu tidak mungkin berasal dari Indonesia.

Tidak Ada Representasi dari Masyarakat Iran

Menurut Boroujerdi, meskipun di Iran terdapat ketidakpuasan atau protes dari sebagian masyarakat, figur yang dimaksud tidak dianggap representatif. Ia menegaskan bahwa masyarakat Iran tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang disebutkan tersebut.

“Kami di Iran, masyarakat negara kami, tidak menganggap ada dan tidak menganggap serius orang yang tadi disebutkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bahkan kelompok yang tidak puas terhadap pemerintah Iran pun, menurutnya, tidak memandang figur tersebut sebagai tokoh yang relevan.

“Mungkin saja di Iran terdapat sebuah ketidakpuasan, sebuah protes dari masyarakat, tetapi pihak yang protes dan tidak puas pun di Iran tidak menganggap orang ini sebagai orang yang serius. Dan saya rasa media juga menganggapnya demikian,” tandas Boroujerdi.

Pos terkait