Risiko geopolitik naik, rekomendasi saham migas penting

Aa1sxf0s
Aa1sxf0s

Tantangan yang Menghadapi Sektor Migas di Tahun 2026

Pada tahun 2026, sektor minyak dan gas (migas) menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kinerjanya. Salah satu faktor utama adalah fluktuasi harga minyak dan gas dunia serta pengaruh sentimen geopolitik global. Perkembangan ini menjadi perhatian khusus bagi para analis dan investor di pasar modal.

William Simadiputra, Head of Equity Research DBS Vickers Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa meskipun harga minyak cenderung stabil dalam kisaran terbatas, risiko geopolitik semakin meningkat. Hal ini menciptakan volatilitas harga minyak sepanjang tahun 2025, meskipun dalam kisaran perdagangan yang relatif ketat. Faktor-faktor seperti penawaran-permintaan, kondisi makroekonomi global, dan kebijakan tarif serta suku bunga juga turut berkontribusi pada fluktuasi tersebut.

Sejak semester II – 2025, kekhawatiran tentang kelebihan pasokan minyak telah meningkat. Penyebab utamanya adalah pelonggaran pemotongan produksi OPEC+ yang lebih cepat dari perkiraan. Namun, dalam pertemuan bulanan terakhirnya, OPEC+ mengumumkan jeda dalam peningkatan produksi untuk kuartal pertama tahun 2026. Alasan utamanya adalah kondisi pasar yang lebih lemah secara musiman.

Tindakan ini menunda pembalikan penuh penyesuaian sukarela hingga akhir tahun 2026 dan memberikan sedikit keringanan bagi pasar. Hal ini meningkatkan sentimen harga minyak sampai batas tertentu. William menyebutkan bahwa jeda ini juga memberi waktu kepada OPEC+ untuk menilai dampak sanksi Barat yang lebih ketat terhadap perusahaan minyak besar Rusia.

DBS Vickers Sekuritas memperkirakan bahwa sanksi baru-baru ini terhadap perusahaan minyak Rusia akan memiliki efek jangka pendek pada pasokan. Meski kemungkinan tidak akan menyebabkan gangguan pasar jangka panjang, karena pasokan bisa dialihkan melalui berbagai lapisan perantara. Oleh karena itu, prediksi harga minyak moderat untuk tahun 2026 tetap dipertahankan, dengan proyeksi rata-rata US$ 62 – US$ 67 per barel untuk minyak Brent.

William juga mencatat bahwa OPEC+ akan menghentikan sementara peningkatan produksi pada kuartal pertama tahun 2026. Pertemuan bulanan terbaru kelompok negara sukarela 8 (V8), yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia, memutuskan untuk menghentikan sementara peningkatan produksi. Tindakan ini menunda pembalikan penuh penyesuaian sukarela sebesar 1,65 juta barel per hari ke bagian akhir tahun 2026 dan memberikan kelegaan bagi pelaku pasar.

Beberapa poin penting dari strategi ini antara lain:
* Ini merupakan indikasi pertama dari OPEC+ bahwa kelebihan pasokan mungkin akan segera terjadi.
* Ini memungkinkan pendekatan wait and see mengenai dampak sanksi Barat terhadap perusahaan minyak besar Rusia dalam beberapa bulan ke depan.

Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menyoroti tantangan yang perlu dicermati investor terhadap emiten migas. Penurunan volume alami pada bisnis gas sekitar 1% sampai 2% setiap tahunnya menjadi risiko bagi emiten migas yang kurang aktif dalam ekspansi. Harga minyak yang menguat berdampak positif pada emiten migas, terutama karena kontrak yang relatif pendek. Sedangkan gas memiliki harga yang lebih stabil karena durasi kontrak biasanya mencapai 10 tahun.

Harry menyatakan bahwa kuartal I – 2026 harusnya positif untuk emiten migas Indonesia. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan bahwa prospek emiten migas masih berpeluang positif. Harga minyak yang tinggi menjaga pendapatan dan arus kas produsen minyak. Aktivitas jasa migas stabil mengikuti belanja eksplorasi, sementara segmen gas masih tertahan sehingga pertumbuhan sektor tidak merata.

Sukarno menyoroti potensi risiko yang dihadapi emiten sektor migas, termasuk surplus pasokan minyak global, volatilitas harga gas, penurunan produksi lapangan tua domestik, serta ketidakpastian kebijakan energi dan geopolitik yang dapat memicu fluktuasi harga komoditas.

Dalam rekomendasi saham, William merekomendasikan buy saham Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga Rp 1.800 per saham. Harry Su merekomendasikan buy saham Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target harga Rp 2.300 per saham dan saham MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham. Sedangkan Sukarno merekomendasikan buy saham ENRG dengan target harga Rp 2.000 per saham.

Pos terkait