Rocky Gerung: Anaknya Bisa Lebih Patriotis dari Menteri

Img 20230809 150937
Img 20230809 150937

Penjelasan Rocky Gerung tentang Nasionalisme dan Status Kewarganegaraan

Pengamat politik, Rocky Gerung, memberikan tanggapan terkait polemik yang melibatkan Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), terkait unggahan paspor Warga Negara Asing (WNA) Inggris milik anaknya. Dalam pernyataannya, Rocky menekankan bahwa publik tidak boleh terburu-buru menghakimi pilihan hidup seseorang hanya karena status kewarganegaraan.

Ia menilai bahwa nasionalisme tidak selalu diukur dari status paspor atau tempat tinggal. Menurut Rocky, kasus yang terjadi di Inggris mungkin memiliki aspek lain, tetapi masyarakat tidak boleh langsung menghakimi tanpa memahami konteksnya. Ia menyampaikan hal tersebut dalam video yang tayang di YouTubenya pada Senin (2/3/2026).

Ilustrasi tentang Tindakan yang Lebih Patriotis

Rocky kemudian membuat sebuah ilustrasi untuk menjelaskan pandangannya. Ia membayangkan jika anak Dwi yang berstatus WNA Inggris kelak bergabung dengan organisasi kemanusiaan internasional seperti Greenpeace atau komunitas relawan global yang bergerak membantu korban bencana.

“Bayangkan jika si anak tadi, yang Warga Negara Inggris, ada bencana di Indonesia terus dia kumpulkan teman-temannya se-Eropa itu untuk datang ke Indonesia dan membantu Indonesia. Bukankah dia lebih patriotis?” katanya.

Menurut Rocky, tindakan tersebut jauh lebih patriotis ketimbang beberapa menteri saat ini yang belum bisa menyelesaikan masalah bencana di Indonesia. “Bukan kah dia lebih patriotis, ketimbang menteri-menteri yang sampai sekarang enggak tahu cara menyelesaikan bencana? Kan itu intinya kan,” ujarnya.

Kemungkinan Lain yang Bisa Terjadi

Rocky juga menyinggung kemungkinan lain, misalnya jika anak tersebut aktif menyuarakan isu lingkungan dan mengkritik perusakan alam di Indonesia dari panggung internasional. “Atau, dia bergabung dengan Greenpeace lalu mulai bikin protes, terhadap perusakan lingkungan di Indonesia,” katanya.

Menurut Rocky, meski anak Dwi Sasetyaningtyas kini berstatus Warga Negara Inggris, hal itu tidak berarti ia tidak peduli terhadap Indonesia. “Suatu waktu itu kita akan sesali nanti. Kenapa? Karena pilihan hari ini bukan diikat oleh semacam ketidakpedulian pada Indonesia, tapi mungkin menghindar sebentar dari ketidakpedulian itu supaya bisa punya refleksi. Jadi kita mesti selalu hati-hati tuh,” jelasnya.

Persoalan LPDP dan Kewajiban Pulang ke Indonesia

Rocky menegaskan bahwa persoalan LPDP dan kewajiban pulang ke Indonesia tidak bisa dilihat secara hitam dan putih. Menurutnya, tak bisa serta-merta menyebut mereka yang belum atau tidak pulang sebagai tidak patriotik.

“Jadi enggak ada yang penting sebetulnya mempersoalkan mereka yang merasa belum layak pulang ke Indonesia karena mungkin pertimbangan mereka pulang jadi ASN tapi uangnya kurang.”

“Jadi begitu kompleks sebetulnya LPDP ini. Jadi jangan dinyatakan bahwa yang tidak pulang itu tidak patriotik,” pungkasnya.

Konteks Awal Polemik

Sebelumnya, Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumnus atau penerima beasiswa LPDP, memicu polemik di media sosial. Konten yang menyinggung status kewarganegaraan anaknya ramai diperbincangkan karena Dwi merupakan penerima beasiswa negara.

Polemik bermula dari video yang diunggah di Instagram dan Threads miliknya. Dalam video tersebut, Dwi memperlihatkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi British citizen.

“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujarnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan itu segera viral dan memicu respons keras dari warganet. Banyak yang menilai narasi tersebut kurang bijak disampaikan oleh seorang awardee LPDP, mengingat beasiswanya dibiayai negara.

Peran Dwi sebagai Alumni LPDP

Dwi sendiri tercatat sebagai Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, mengambil jurusan Sustainable Energy Technology dengan beasiswa LPDP pada 2015 dan lulus pada 2017.

Selama masa pengabdian di Indonesia pada 2017–2023, Dwi menginisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir, memberdayakan ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatera, hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pos terkait