Rokok murah picu perokok anak dan kesehatan terganggu

Aa1wmpk4
Aa1wmpk4



Pengaruh Rokok Murah terhadap Remaja

Di tengah berbagai upaya pencegahan, peredaran rokok murah di pasaran kini semakin memperluas akses bagi remaja untuk mengonsumsi produk tembakau. Dengan harga yang relatif rendah, mulai dari Rp8.600 hingga kisaran Rp23.000 per bungkus isi 12 batang, rokok kini bisa dibeli dengan uang saku harian pelajar. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mempermudah para remaja untuk mengakses dan mengonsumsi rokok.

Berdasarkan penelusuran harga di lapangan pada Sabtu (21/2/2026), sejumlah merek rokok dijual dalam kisaran harga yang sangat terjangkau. Contohnya adalah Djava Kretek dengan harga Rp8.600, HS Kretek Rp9.500, Malioboro Crafted Rp12.000, hingga Dji Sam Soe Kretek yang mencapai Rp23.000 per bungkus. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan merek premium yang bisa mencapai kisaran Rp40.000–Rp50.000 per bungkus isi 16 batang.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa harga yang murah, termasuk rokok tanpa pita cukai, menjadi celah masuk bagi perokok usia dini. Berikut beberapa faktor yang mendorong remaja untuk mulai merokok:

Faktor Pemicu Awal Merokok

Seorang remaja di Sumatra Utara, Candra, mengaku sudah mulai merokok sejak usia 15 tahun, tepatnya saat SMP. Ia menyebutkan bahwa faktor pergaulan dan lingkungan keluarga menjadi pemicu utama. Di lingkungannya, banyak rokok murah yang beredar, sehingga membuat ia mudah mendapatkan akses ke produk tersebut.

“Saya ikut teman. Di rumah orang tua juga merokok. Kayaknya orang tua saya sudah tahu, mengendus-ngendus, tetapi sampai sekarang ya sudah saja,” ujarnya.

Candra juga mengatakan bahwa ketika uang saku tidak cukup, ia membeli rokok batangan dengan merek yang sama. Namun, ia tidak mengetahui perbedaan antara rokok legal dan ilegal. Yang ia tahu, hanya membeli rokok yang murah sesuai kemampuan uang sakunya.

“Sampai sekarang rokoknya cuman satu dan itu terus, kalau ga ada uang, baru beli batangan. Kalau rokok murah, coba punya teman,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan oleh remaja lain. Bahkan jika harga rokok dinaikkan, ia mengaku kemungkinan tetap akan membeli, meski dengan jumlah lebih sedikit.

Perokok Anak dan Tren Rokok Murah

Dalam kesempatan terpisah, seorang remaja dari salah satu SMAN di Depok mengaku sudah mengonsumsi rokok sejak mengenakan seragam putih abu-abu. Awalnya karena penasaran, karena produk sering dilihat di warung, maka dia mencoba rokok tersebut.

“Awalnya karena penasaran, ditambah lingkungan pertemanan yang juga merokok,” ujarnya.

Saat ini, ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok per hari dengan harga sekitar Rp33.000–Rp35.000. Uang untuk membeli rokok berasal dari pemberian orang tua. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, ia pernah mencoba rokok yang lebih murah, termasuk produk ilegal tanpa pita cukai.

“Selain harga, bedanya soal rasa, aneh rasanya. Teman-teman juga sebenarnya enggak suka, tapi kalau kondisi keuangan enggak mendukung, jadi tetap beli yang murah itu,” katanya.

Meski keduanya menyadari risiko kesehatan akibat merokok dan pernah terpikir untuk berhenti, kebiasaan yang sudah terbentuk membuat mereka kesulitan lepas dari ketergantungan nikotin.

Dampak Kesehatan pada Remaja

Dari sisi medis, merokok di usia remaja membawa risiko yang jauh lebih besar. Pada fase tersebut, organ tubuh, termasuk otak dan paru-paru masih berkembang, sehingga paparan zat beracun dapat mengganggu proses pertumbuhan tersebut.

Menurut KidsHealth.org, banyak zat kimia dalam rokok seperti nikotin dan sianida merupakan racun yang dapat mematikan dalam dosis tinggi. Saat pertama kali mencoba merokok, tubuh sebenarnya memberikan sinyal penolakan. Perokok pemula kerap merasakan nyeri atau sensasi terbakar di tenggorokan dan paru-paru, bahkan tidak sedikit yang mengalami muntah.

Dalam jangka panjang, kebiasaan merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit serius, antara lain:

Penyakit jantung

Stroke

Kerusakan paru-paru

Berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru, tenggorokan, lambung, dan kandung kemih

Selain itu, rokok juga berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan lain seperti:

Penyakit gusi dan gigi menguning

Gangguan mata

Risiko infeksi lebih tinggi, termasuk pneumonia

Peningkatan risiko diabetes

Tulang lebih rapuh dan mudah patah

Masalah kulit seperti psoriasis

Keriput dini

Tukak atau luka pada saluran pencernaan

Pada remaja, dampak tersebut bisa terasa lebih cepat. Performa olahraga menurun, mudah sesak napas, detak jantung meningkat lebih cepat, serta daya tahan tubuh melemah. Kondisi ini membuat remaja lebih mudah terserang flu, bronkitis, hingga infeksi paru.

Rokok Murah dan Ancaman Jangka Panjang

Harga rokok yang terjangkau membuat remaja tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Bahkan mengaku tetap akan membeli meski harga naik, hanya dengan mengurangi konsumsi.

Keberadaan rokok ilegal tanpa cukai memperparah situasi karena harganya lebih rendah dari rokok resmi. Produk ilegal ini tidak hanya merugikan negara dari sisi penerimaan cukai, tetapi juga meningkatkan risiko konsumsi di kalangan pelajar.

Dari sisi ekonomi keluarga, kebiasaan merokok remaja juga menjadi beban tambahan. Dengan asumsi satu bungkus per hari seharga Rp15.000–Rp30.000, pengeluaran bulanan bisa mencapai Rp450.000–Rp900.000, angka yang signifikan untuk usia sekolah.

Fenomena rokok murah di kalangan remaja menjadi persoalan serius yang tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada kualitas generasi muda di masa depan. Akses yang mudah, harga terjangkau, serta pengaruh lingkungan membuat upaya pencegahan semakin menantang.

Upaya pengawasan peredaran rokok ilegal, penegakan aturan penjualan kepada anak di bawah umur, serta edukasi sejak dini menjadi langkah penting untuk menekan angka perokok usia muda.

Pos terkait