JAKARTA – Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan akibat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, beberapa saham masih mendapat rekomendasi dari para ahli. Investor disarankan untuk menggunakan pendekatan yang selektif dan defensif selama kondisi pasar yang volatil ini berlangsung.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup pada posisi 8.016 setelah turun sebesar 2,66% atau 218,66 poin pada perdagangan Senin (2/3/2026). Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 704 saham mengalami penurunan, sementara 113 saham menguat dan 141 saham tidak mengalami perubahan.
Selama sesi perdagangan hari ini, IHSG bergerak dalam rentang antara 8.016 hingga 8.133. Total transaksi mencapai 54,08 miliar saham dengan nilai Rp29,75 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp14.342 triliun.
Secara teknis, IHSG saat ini menunjukkan koreksi sebesar 4,52% dalam sepekan terakhir, serta turun 6,97% dalam tiga bulan terakhir. Namun, IHSG masih mengalami kenaikan sebesar 1,19% dalam sebulan terakhir.
Menurut Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst dari Phintraco Sekuritas, investor sebaiknya memprioritaskan strategi selektif dan defensif dalam menghadapi situasi volatilitas tinggi ini. Justru keluar sepenuhnya dari pasar modal bukanlah langkah yang tepat.
”Investor juga bisa meningkatkan proporsi kas agar tetap fleksibel sambil menunggu stabilisasi pasar. Selain itu, mereka juga dapat memanfaatkan koreksi sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi bertahap,” ujarnya pada Senin (2/3/2026).
Beberapa saham defensif yang direkomendasikan antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN). Selain itu, saham-saham di sektor energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA), PT Elnusa Tbk. (ELSA), dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) juga layak dipertimbangkan.
Reza Fahmi Riawan, Senior Vice President Head of Retail & Product Development dari Henan Putihrai Asset Management (HPAM), menambahkan bahwa investor juga dapat menerapkan pendekatan yang lebih hati-hati dengan meningkatkan eksposur pada sektor defensif dan berbasis dolar AS. Dua sektor utama yang menjadi rekomendasinya adalah sektor energi dan eksportir.
Reza juga menekankan pentingnya memilih saham-saham dengan kinerja fundamental yang positif secara selektif. Menurutnya, koreksi yang terjadi saat ini tidak disebabkan oleh pelemahan struktural pasar saham nasional.
”Sektor-sektor yang sensitif terhadap harga BBM dan daya beli, seperti ritel diskreksioner, transportasi, serta emiten dengan leverage tinggi, perlu diperhatikan dengan lebih teliti,” katanya.
Ia juga menyatakan bahwa peluang kembalinya dana asing ke pasar modal Tanah Air akan terbuka jika premi risiko global mulai mereda. Reza memprediksi bahwa dana asing akan kembali masuk ke pasar Indonesia pada paruh kedua tahun 2026.
”Arus dana ke depan sangat bergantung pada stabilisasi harga minyak, pergerakan dolar AS, serta kemampuan otoritas dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Jika premi risiko global mulai mereda, potensi kembalinya dana asing ke pasar Indonesia tetap terbuka, terutama pada paruh kedua 2026,” tambahnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





