Rupiah Berpotensi Melemah Pekan Ini Akibat Eskalasi Geopolitik Iran

Aa1ughqh
Aa1ughqh

Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Prediksi Pelemahan Berlanjut

Pada Jumat (27/2/2026), nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Menurut data dari Jisdor Bank Indonesia, rupiah ditutup melemah sebesar 0,12% pada level Rp 16.779 per dolar AS. Sementara itu, dalam laporan harian, rupiah juga melemah sebesar 0,17% ke tingkat Rp 16.787 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa kemungkinan besar pelemahan rupiah akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump tidak puas dengan pertemuan antara delegasi AS dan Iran terkait reaktor nuklir dan rudal.

“Ini kemungkinan besar akan memengaruhi pergerakan rupiah,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi, Minggu (1/3/2026).

Sentimen Pasar Ekuitas Mempengaruhi Rupiah

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah mengalami pelemahan pada akhir pekan ini karena sentimen pasar ekuitas yang cenderung negatif. Investor cenderung bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan terbaru sebelum melakukan investasi.

Beberapa data ekonomi penting Indonesia akan dirilis pada Senin (2/3/2026), seperti data inflasi, data manufaktur, dan data perdagangan. Data ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi perekonomian nasional.

Proyeksi Pelemahan Rupiah

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, melihat bahwa rupiah memiliki potensi untuk menguat secara terbatas. Hal ini didorong oleh kemungkinan pelemahan data ekonomi AS yang dapat meningkatkan peluang pemotongan suku bunga sebesar 50 basis point oleh The Fed di tahun 2026.

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa rupiah bisa mencapai level Rp 17.000 per dolar AS dalam sepekan ini. Ia juga memperkirakan bahwa pada Senin (2/3/2026), rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap melemah di kisaran Rp 16.790 hingga Rp 16.820 per dolar AS.

Sementara itu, Lukman Leong memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.700 hingga Rp 16.850 per dolar AS. Josua Pardede juga memproyeksikan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.800 per dolar AS.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pergerakan Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain:

  • Eskalasi geopolitik: Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya antara AS dan Iran, dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global.
  • Sentimen pasar: Investor cenderung waspada dan menunggu data ekonomi penting sebelum mengambil keputusan investasi.
  • Data ekonomi AS: Perkembangan ekonomi AS dapat memengaruhi kebijakan moneter dan pergerakan mata uang dunia.
  • Kebijakan moneter Bank Indonesia: Kebijakan suku bunga dan intervensi bank sentral juga menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan rupiah.

Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan akan terus menghadapi tekanan dalam beberapa hari ke depan. Namun, adanya proyeksi pelemahan data ekonomi AS dan kemungkinan pemotongan suku bunga oleh The Fed dapat memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk menguat.

Pos terkait