Pada hari Jumat (20/2/2026), nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data yang dirilis oleh Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat sebesar 0,04% secara harian, dengan posisi kurs mencapai Rp 16.888 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga menguat sebesar 0,24% menjadi Rp 16.885 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa BI telah merilis data transaksi berjalan dan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk kuartal IV tahun 2025. Dalam data tersebut, transaksi berjalan pada periode tersebut tercatat defisit sebesar US$ 2,54 miliar atau setara 0,69% dari PDB. Hal ini berbeda dengan kuartal sebelumnya yang mencatat surplus sebesar US$ 4,01 miliar atau 1,11% dari PDB. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya impor.
Di sisi lain, neraca finansial Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 8,16 miliar, yang jauh lebih baik dibandingkan defisit sebesar US$ 8,03 miliar pada kuartal sebelumnya. Kombinasi antara defisit transaksi berjalan dan surplus neraca finansial membuat NPI akhirnya mencatat surplus sebesar US$ 6,07 miliar.
Selama seminggu terakhir, rupiah cenderung melemah pada awal pekan karena tekanan geopolitik. Namun, penurunan tersebut terbatas. Secara mingguan, rupiah melemah sebesar 0,20%.
Josua memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak sideways pada pekan depan, mengingat adanya data PDB AS yang menunjukkan pertumbuhan yang lebih rendah dari perkiraan. Ia mengatakan, “Pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak sideways di tengah data PDB AS yang melemah.”
Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa PDB riil AS hanya tumbuh sebesar 1,4% pada kuartal IV tahun 2025, jauh di bawah estimasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 3%. Pertumbuhan ekonomi AS secara tahunan pada tahun 2025 mencapai 2,2%, turun dari pertumbuhan 2,8% pada tahun 2024.
Josua memproyeksikan bahwa rupiah pada Senin (23/2/2026) akan bergerak dalam rentang Rp 16.825 hingga Rp 16.925 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa rupiah berhasil menguat tipis terhadap dolar AS pada Jumat (20/2/2026). Penguatan ini terjadi karena upaya Bank Indonesia (BI) dalam meningkatkan intervensi untuk menstabilkan rupiah, yang dinilai masih undervalued. Meskipun demikian, penguatan rupiah sebenarnya masih tertekan oleh penguatan dolar AS dan data yang menunjukkan kembalinya defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal IV tahun 2025.
Lukman mengatakan, “Tidak ada data ekonomi penting pekan depan baik internal maupun eksternal. Investor akan mencermati perkembangan di Timur Tengah/Iran dan data PDB AS.” Ia memproyeksikan bahwa rupiah pada Senin (23/2/2026) akan bergerak di kisaran Rp 16.850 hingga Rp 17.000 per dolar AS.





