Rupiah jatuh ke Rp 16.831 per dolar AS

Aa1crbyd 1
Aa1crbyd 1



Nilai tukar rupiah mengalami penurunan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah terjadinya serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Berdasarkan data dari sumber independen hingga Senin (2/3) pukul 10.08 WIB, nilai tukar rupiah mencapai tingkat Rp 16.831 per dolar AS, turun sebanyak 44 poin atau 0,26 persen.

Bank Indonesia menilai bahwa serangan tersebut telah memicu sentimen pasar keuangan global yang cenderung lebih hati-hati. Otoritas moneter akan terus memantau dinamika pasar dan berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Dalam situasi eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran yang menyebabkan sentimen risk off di pasar keuangan global, Bank Indonesia akan terus mengamati pergerakan pasar secara cermat dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah tetap bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangan resminya, Senin (2/3).



Dia menegaskan bahwa bank sentral tidak akan diam melihat gejolak yang terjadi di pasar global. Intervensi akan dilakukan secara terukur, baik di pasar luar negeri maupun domestik, untuk mencegah volatilitas yang berlebihan.

“Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik melalui transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” katanya.

Faktor Pemicu Penurunan Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi penurunan nilai tukar rupiah antara lain:

  • Eskalasi Konflik di Timur Tengah: Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Hal ini menyebabkan investor lebih memilih aset yang aman, seperti dolar AS.
  • Sentimen Risk Off: Pasar keuangan cenderung lebih waspada dan menghindari aset berisiko, sehingga memperkuat permintaan terhadap dolar AS.
  • Pergerakan Harga Minyak Mentah: Kenaikan harga minyak mentah juga bisa memengaruhi nilai tukar rupiah, terutama jika kenaikan tersebut memengaruhi inflasi dan biaya impor.

Peran Bank Indonesia

Bank Indonesia memiliki beberapa strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, yaitu:

  • Pemantauan Pasar: Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar keuangan secara real-time untuk mengetahui perkembangan terkini.
  • Intervensi Pasar: Melalui transaksi NDF dan DNDF, Bank Indonesia dapat melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
  • Komunikasi dengan Publik: Bank Indonesia memberikan informasi secara transparan kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan di pasar.

Langkah Jangka Panjang

Untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya:

  • Kebijakan Moneter yang Proaktif: Meningkatkan koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
  • Stabilitas Harga dan Inflasi: Memastikan inflasi tetap terkendali agar tidak memengaruhi daya beli masyarakat.
  • Penguatan Sistem Keuangan: Meningkatkan kapasitas sistem keuangan nasional agar lebih tangguh dalam menghadapi tantangan global.

Dengan langkah-langkah tersebut, Bank Indonesia berharap dapat menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil meskipun menghadapi tekanan dari kondisi pasar global yang tidak menentu.

Pos terkait