Di tengah pergerakan nilai tukar yang dinamis, rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis (19/2/2026). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 16.925 per dolar AS. Pelemahan ini tercatat sebesar 0,24% dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.884 per dolar AS.
Pergerakan rupiah di Jisdor BI mencerminkan kondisi pasar spot. Pada akhir perdagangan hari itu, rupiah ditutup pada tingkat Rp 16.894 per dolar AS, turun 0,06% dari posisi sebelumnya. Meskipun penurunan tergolong kecil, hal ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Di kawasan Asia, sebagian besar mata uang negara-negara tetangga juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Beberapa antara lain:
- Dolar Taiwan melemah sebesar 0,41%
- Ringgit Malaysia turun 0,31%
- Peso Filipina merosot 0,25%
- Yen Jepang melemah 0,12%
- Rupiah mengalami penurunan sebesar 0,06%
Sementara itu, yuan Tiongkok melemah 0,05%, dolar Singapura turun 0,02%, dan dolar Hong Kong melemah 0,01%. Namun, tidak semua mata uang mengalami penurunan. Beberapa negara berhasil mencatat penguatan terhadap dolar AS:
- Baht Thailand naik 0,46%
- Won Korea meningkat 0,11%
Selain itu, indeks dolar yang menjadi indikator utama nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia, berada di posisi 97,62. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang berada di 97,70. Penurunan indeks ini menunjukkan bahwa dolar AS sedikit melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Di tingkat global, sentimen terhadap dolar AS cenderung stabil, namun tekanan inflasi dan kebijakan moneter di negara-negara lain bisa memengaruhi pergerakan mata uang.
Dari sisi domestik, stabilitas ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar rupiah. Kebijakan moneter yang proaktif serta pengelolaan cadangan devisa yang baik akan membantu mencegah pelemahan yang terlalu dalam.
Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar secara berkala. Investor dan pelaku bisnis perlu memperhatikan perkembangan terkini untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi volatilitas pasar.





