Rupiah Kembali Melemah di Akhir Pekan
Nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan pada akhir perdagangan awal pekan. Tekanan kuat datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu kekhawatiran pasar keuangan dunia.
Berdasarkan data Refinitiv yang dilansir oleh CNBC Indonesia, pada Senin (2/3), rupiah ditutup melemah sebesar 0,55 persen ke level Rp 16.855 per dolar AS. Posisi ini menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir, sekaligus menunjukkan bahwa sentimen pasar domestik sedang rapuh di tengah situasi global yang tidak stabil.
Dolar Diburu, Rupiah Kehilangan Pegangan
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Mata uang Garuda dibuka di level Rp 16.810 per dolar AS, lalu terus tertekan hingga penutupan sore hari. Penyebab utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik pasca serangan militer AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu.
Laporan internasional menyebutkan bahwa serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebuah peristiwa yang langsung mengubah peta risiko global. Situasi makin memanas setelah Iran dikabarkan membalas dengan menyerang aset-aset AS di sejumlah negara kawasan, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah.
Indeks Dolar Melonjak, Mata Uang Global Tertekan
Lonjakan risiko membuat pelaku pasar global beralih ke aset aman. Dolar AS kembali menjadi primadona. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) melonjak sebesar 0,84 persen ke level 98,429. Penguatan agresif DXY ini menandakan arus besar dana global yang mencari perlindungan di aset berdenominasi dolar—dan pada saat yang sama, menekan hampir seluruh mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Inflasi Jadi Beban Pasar Domestik
Di sisi domestik, pasar juga mencermati rilis inflasi Februari 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mencatat inflasi sebesar 0,68 persen secara bulanan (mtm) pada Februari 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,75 pada Januari menjadi 110,50 pada Februari.
“Pada bulan Februari 2026 terjadi inflasi sebesar 0,68 persen,” ujar Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers, Senin (2/3). Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 4,76 persen (year on year)—tertinggi sejak Maret 2023. Angka ini menambah kekhawatiran pasar terhadap ruang gerak kebijakan moneter ke depan.
Rupiah di Persimpangan Risiko
Kombinasi tekanan eksternal dan sentimen domestik membuat rupiah berada di posisi rentan. Selama ketegangan geopolitik Timur Tengah belum mereda dan dolar AS tetap perkasa, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Awal Maret 2026 pun dibuka dengan satu pesan jelas dari pasar: risiko global kembali memegang kendali.





