Rupiah Melemah Hari Ini, Kurs Jadi Rp16.830

Aa1xkmou 3
Aa1xkmou 3



JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp16.830 pada hari ini, Senin (2/3/2026). Pada saat bersamaan, greenback terpantau bergerak di zona hijau.

Berdasarkan data hingga pukul 09.05, rupiah dibuka turun sebesar 43 basis point atau 0,26% menuju level Rp16.830 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,22% ke posisi 97,82.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia lainnya ikut mengalami pelemahan. Yen Jepang terdepresiasi sebesar 0,13%, dolar Singapura turut melemah sebesar 0,09%, won Korea ikut melemah 0,72%, Peso Filipina terdepresiasi sebesar 0,58%.

Selanjutnya, pelemahan juga terjadi terhadap rupee India sebesar 0,07% dan yuan China turun melemah sebesar 0,08%. Tak hanya itu, ringgit Malaysia juga turun 0,26%, dan baht Thailand melemah 0,40%.

Penguatan tipis tercatat terjadi untuk dolar Hongkong sebesar 0,01%.

Perkiraan Pergerakan Rupiah dalam Waktu Dekat

Direktur Traze Andalan Ibrahim Assuaibi memperkirakan pada perdagangan awal pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.790–Rp16.820 per dolar AS.

Sementara dalam sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp16.750–Rp16.900 per dolar AS, dengan arah pergerakan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik Timur Tengah, kebijakan tarif AS, serta ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Fed.

Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Rupiah

Pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih dibayangi sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran pasar global dan mendorong investor cenderung mencari aset safe haven, sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, ketidakpastian ekonomi AS juga turut memengaruhi arah rupiah. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump. Namun, Trump merespons dengan mengumumkan tarif baru menggunakan dasar hukum berbeda serta membuka peluang tambahan bea masuk. Kondisi ini membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan perdagangan global.

Kebijakan Moneter dan Dampaknya

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga tengah menilai kembali arah suku bunga The Fed. Bank sentral AS diperkirakan masih mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret dan April karena kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi.

Tekanan Eksternal dari Kebijakan Dagang AS

Tekanan eksternal juga datang dari kebijakan dagang terbaru Departemen Perdagangan AS yang menetapkan bea masuk imbalan tinggi terhadap impor sel dan panel surya dari India, Indonesia, dan Laos. Indonesia dikenakan tarif subsidi sebesar 104,38%. Kebijakan ini berpotensi memengaruhi kinerja ekspor serta sentimen terhadap aset domestik.

Pos terkait