Rupiah Terus Tertekan di Hadapan Dolar AS
Pada hari Jumat (20/2/2026), nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data yang dirilis oleh Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 16.913 per dolar AS, atau melemah sebesar 0,11% dibandingkan posisi sebelumnya pada Kamis (19/2/2026) yang berada di Rp 16.894 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah mencatat pelemahan selama empat hari berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pasar valuta asing saat ini sangat rentan terhadap fluktuasi eksternal.
Dolar AS Didukung Data Ekonomi dan Sikap Hawkish The Fed
Dolar AS sedang bersiap untuk mencatat kinerja mingguan yang terkuat sejak Oktober. Penguatan ini didorong oleh beberapa faktor, antara lain data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan, prospek kebijakan hawkish dari Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Semalam, dolar mendapat dukungan tambahan setelah data menunjukkan bahwa klaim tunjangan pengangguran baru di AS turun lebih besar dari yang diharapkan, menandakan bahwa pasar tenaga kerja tetap stabil. Di awal perdagangan Asia, dolar mempertahankan penguatannya, sehingga menekan poundsterling hingga mendekati level terendah satu bulan di US$1,3457. Sterling menuju pelemahan mingguan hampir 1,5%.
Sementara itu, euro juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,02% menjadi US$1,1768. Euro berpotensi melemah sebesar 0,8% sepanjang pekan ini karena ketidakpastian terkait masa jabatan Presiden European Central Bank, Christine Lagarde.
Indeks Dolar Bertahan di Dekat Puncak Satu Bulan
Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar berhasil bertahan di dekat puncak satu bulan yaitu 97,89. Greenback berada dalam jalur kenaikan mingguan lebih dari 1%, yang akan menjadi performa terbaik dalam lebih dari empat bulan.
Joseph Capurso dari Commonwealth Bank of Australia menilai bahwa dolar masih memiliki peluang untuk menguat lebih lanjut. Hal ini merujuk pada risalah rapat The Fed yang menunjukkan bahwa sejumlah pejabat terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Ketegangan AS-Iran Topang Permintaan Safe Haven
Kekhawatiran tentang konflik antara AS dan Iran juga memberikan dukungan bagi dolar sebagai aset safe haven. Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya dalam waktu 10 hingga 15 hari ke depan, atau menghadapi konsekuensi serius.
Teheran merespons dengan ancaman akan membalas terhadap pangkalan AS di kawasan jika diserang. Joseph Capurso menyatakan bahwa situasi ini bisa sangat memengaruhi pasar minyak dan mata uang jika situasinya memburuk. Ia juga menambahkan bahwa hal ini akan menjadi ujian apakah dolar AS masih menjadi aset safe haven yang andal.





