Rupiah Melemah Mendekati 17.000 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah mengalami penurunan hampir mendekati angka 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (19/2). Kurs rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS, yang dipengaruhi oleh faktor global dan prospek kebijakan Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan siang ini.
Menurut Analis Doo Financial Lukman Leong, rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang sedang menguat cukup besar. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah sebesar 41 poin ke level 16.884 per dolar AS. Selanjutnya, rupiah terus bergerak melemah hingga mencapai level 16.925 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, dolar berada di level Rp 16.837. Pada perdagangan pagi ini, dolar AS langsung dibuka di level Rp 16.931. Pelemahan rupiah ini terjadi setelah data-data ekonomi seperti perumahan, manufaktur, dan penjualan barang tahan lama menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan. Selain itu, sikap hawkish The Fed dalam risalah pertemuan FOMC juga semakin memperkuat dolar AS.
Antisipasi Sikap BI
Dari sisi domestik, investor justru mengantisipasi kemungkinan sikap dovish dari BI yang akan diumumkan dalam rapat dewan gubernur sore ini. Perkiraan ini memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Pengaruh Konflik AS-Iran
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah terkait dengan sikap skeptis pasar terhadap perundingan antara Iran dan AS. Meskipun Iran dan AS telah mencapai kesepahaman pada hari Selasa (17/2) mengenai “prinsip-prinsip panduan” utama dalam pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir mereka yang telah berlangsung lama, tetapi hal ini tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa proses perundingan antara kedua negara tersebut masih panjang. Pasar energi sangat memantau situasi ini karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat strategis. Jalur air sempit ini dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.
Risiko militer tetap tinggi pasca laporan pada Senin (16/2) bahwa Garda Revolusi Iran melancarkan latihan di Selat Hormuz, sementara pasukan AS tetap ditempatkan secara besar-besaran di seluruh Timur Tengah.
Sentimen Investor Jelang Rilis Data Ekonomi
Sentimen lainnya berasal dari sikap hati-hati investor menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada bulan Januari. Risalah ini dapat memberikan wawasan baru tentang potensi pelonggaran moneter.
Investor juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Jumat. Indikator inflasi pilihan Fed ini dapat membentuk ekspektasi suku bunga.





