Rupiah Naik ke Rp16.859, Ini Penyebabnya

1032729641
1032729641

Rupiah Membuka Pekan dengan Penguatan

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan pada awal perdagangan pekan ini, Senin (23/2/2025). Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp16.859 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menunjukkan kenaikan sebesar 38 poin atau setara 0,23 persen dibandingkan penutupan pekan lalu.

Pergerakan Mata Uang di Asia

Selain rupiah, beberapa mata uang lain di kawasan Asia juga mengalami penguatan terhadap dolar AS. Beberapa di antaranya adalah:

  • Bath Thailand menguat 0,07 persen
  • Ringgit Malaysia menguat 0,02 persen
  • Pesso Filipina menguat 0,21 persen
  • Won Korea menguat 2,20 persen
  • Dolar Taiwan menguat 0,13 persen

Hasil negosiasi tarif ternyata turut memengaruhi penguatan rupiah, sehingga nilai tukarnya mencapai Rp16.888 per dolar AS.

Prediksi Penguatan Rupiah Sepanjang Hari

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah berpotensi melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS. Pelemahan dolar dipicu oleh rilis data pertumbuhan ekonomi AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Selain itu, ada faktor lain yang turut memperkuat prediksi ini, yaitu putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA) yang menganulir kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Menurut Lukman, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran antara Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS. Namun, ia juga menegaskan bahwa situasi ini bisa berubah tergantung pada berbagai faktor eksternal.

Faktor-Faktor yang Bisa Membatasi Penguatan Rupiah

Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa masih ada faktor ketidakpastian yang dapat membatasi penguatan rupiah. Salah satunya adalah respons Trump terhadap putusan MA tersebut, yang diwacanakan akan menaikkan tarif global hingga 15 persen.

Ancaman kenaikan tarif ini berpotensi memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap tensi perdagangan global. Hal ini dapat menahan penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pelaku pasar saat ini masih mengamati perkembangan kebijakan perdagangan AS serta arah kebijakan lanjutan yang akan diambil pemerintahan Trump. Kebijakan-kebijakan ini dinilai sangat penting dalam menentukan arah pergerakan dolar AS dan mata uang global dalam jangka pendek.

BI Akui Rupiah Bergerak di Bawah Nilai Fundamentalnya

Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa rupiah sedang bergerak di bawah nilai fundamentalnya. Alasan utama untuk hal ini adalah adanya tekanan dari kondisi makroekonomi global dan ketidakpastian politik yang terus berlangsung. BI juga menjelaskan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga pada kebijakan fiskal dan stabilitas politik nasional.

Dalam situasi seperti ini, BI terus melakukan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk dengan intervensi pasar dan koordinasi dengan lembaga keuangan lainnya. Meski begitu, para analis tetap mengingatkan bahwa pergerakan rupiah akan terus dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk perkembangan ekonomi global dan kebijakan pemerintah.

Pos terkait