Rupiah Naik Lawan Dolar Hari Ini (3/3)

Aa1xogaa
Aa1xogaa



JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat sedikit ke posisi Rp16.861 pada hari ini, Selasa (3/3/2026). Pada saat yang sama, mata uang greenback terlihat bergerak dalam zona hijau.

Berdasarkan data dari Bloomberg hingga pukul 09.05, rupiah dibuka menguat sebesar 7 basis point menjadi Rp16.861 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat sebesar 0,11% ke level 98,49.

Selain rupiah, sebagian besar mata uang Asia lainnya juga mengalami penguatan. Yen Jepang naik sebesar 0,02%, dolar Singapura menguat sebesar 0,12%, won Korea melemah sebesar 0,15%, dan yuan China menguat sebesar 9,31%.

Di sisi lain, beberapa mata uang mengalami pelemahan. Peso Filipina terdepresiasi sebesar 0,06%, rupee India melemah sebesar 0,55%, dan baht Thailand turun sebesar 0,16%. Sementara itu, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong justru stagnan.

Perkembangan Rupiah dan Pasar Global

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa pada perdagangan Selasa (3/3/2026), rupiah masih akan bergerak fluktuatif tetapi dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.860 – Rp16.910 per dolar AS.

Menurut dia, pasar global merespons secara keras terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Pembunuhan salah satu tokoh penting di Iran memicu kekhawatiran tentang potensi konflik regional yang lebih luas, termasuk gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia.

Di sisi lain, perundingan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa kembali berakhir tanpa hasil signifikan. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasan terhadap sikap negosiasi Iran dan menegaskan kembali tuntutan agar Teheran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global akibat kemungkinan kenaikan harga minyak, sekaligus memperkuat posisi dolar AS.

Kondisi Ekonomi Dalam Negeri

Dari dalam negeri, sentimen ekonomi cukup positif. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke tingkat 53,8 pada Februari 2026, meningkat dari 52,6 di bulan sebelumnya. Data yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi yang kuat, bahkan menjadi yang terkuat sejak Maret 2024.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia sedang dalam kondisi yang stabil dan berkembang. Hal ini bisa menjadi faktor pendukung bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan dari situasi geopolitik yang tidak pasti.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain:

  • Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah pembunuhan tokoh penting di Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan global.
  • Perkembangan perundingan nuklir antara AS dan Iran yang tidak memberikan hasil signifikan, sehingga memperkuat sentimen risiko terhadap investasi asing.
  • Data ekonomi dalam negeri yang menunjukkan peningkatan aktivitas manufaktur, yang dapat menjadi penyangga bagi rupiah meski dalam kondisi fluktuatif.

Prediksi dan Analisis Pasar

Berdasarkan analisis para ahli, rupiah diperkirakan akan terus menghadapi tekanan dari situasi geopolitik yang memicu volatilitas pasar. Namun, jika situasi tersebut reda, rupiah bisa kembali menguat karena fondasi ekonomi domestik yang relatif kuat.

Selain itu, kebijakan moneter Bank Indonesia dan respons pemerintah terhadap isu-isu makroekonomi juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah.

Pos terkait