Rupiah Naik Tipis 0,04% ke Rp 16.888 per Dolar AS pada Jumat (20/2)

Aa1ughqh 3
Aa1ughqh 3

Rupiah Melemah di Akhir Pekan

Pada akhir perdagangan Jumat (20/2/2026), rupiah spot ditutup pada level Rp 16.888 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tercatat sebesar 0,04% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di Rp 16.984 per dolar AS.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Beberapa antara lain:

  • Rupee India mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,33%
  • Yen Jepang melemah sebesar 0,30%
  • Peso Filipina melemah sebesar 0,26%
  • Dolar Taiwan melemah sebesar 0,23%
  • Dolar Singapura melemah sebesar 0,09%
  • Baht Thailand melemah sebesar 0,03%
  • Dolar Hong Kong melemah sebesar 0,01%

Sementara itu, rupiah berhasil menguat bersama dengan ringgit Malaysia dan won Korea. Penguatan masing-masing mata uang tersebut adalah:

  • Rupiah menguat sebesar 0,4%
  • Ringgit Malaysia menguat sebesar 0,12%
  • Won Korea menguat sebesar 0,06%

Indeks Dolar Naik

Indeks dolar, yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia, berada di level 98. Angka ini menunjukkan peningkatan dari sehari sebelumnya yang berada di 97,92.

Pergerakan Mata Uang di Asia

Pergerakan mata uang di Asia terlihat beragam. Beberapa negara mengalami pelemahan sementara yang lain mengalami penguatan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan politik yang terjadi di kawasan tersebut.

Beberapa mata uang yang mengalami pelemahan meliputi:

  • Rupee India
  • Yen Jepang
  • Peso Filipina
  • Dolar Taiwan
  • Dolar Singapura
  • Baht Thailand
  • Dolar Hong Kong

Sementara itu, beberapa mata uang yang mengalami penguatan antara lain:

  • Rupiah
  • Ringgit Malaysia
  • Won Korea

Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Ada beberapa faktor yang memengaruhi nilai tukar mata uang di kawasan Asia. Di antaranya adalah kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral masing-masing negara, kondisi perekonomian nasional, serta situasi geopolitik yang terjadi di kawasan tersebut.

Selain itu, fluktuasi harga komoditas seperti minyak bumi dan logam mulia juga dapat memengaruhi nilai tukar mata uang. Kenaikan harga minyak bumi dapat meningkatkan daya beli negara-negara pengimpor minyak, sedangkan penurunan harga dapat mengurangi daya beli mereka.

Prediksi Pergerakan Mata Uang

Prediksi pergerakan mata uang di kawasan Asia akan sangat bergantung pada berbagai faktor yang telah disebutkan di atas. Investor dan pelaku pasar harus tetap memantau perkembangan ekonomi dan politik di kawasan tersebut untuk membuat keputusan investasi yang tepat.

Dengan situasi yang terus berubah, penting bagi para pemangku kepentingan untuk selalu memperbarui informasi dan analisis terkini mengenai pergerakan mata uang di kawasan Asia.

Pos terkait