Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada akhir perdagangan hari Kamis (19/2/2026). Pada penutupan hari tersebut, rupiah spot berada di level Rp 16.894 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah sebesar 0,06% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.884 per dolar AS.
Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga mengalami penurunan sebesar 0,24% secara harian menjadi Rp 16.925 per dolar AS pada hari Kamis (19/2) dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp 16.884 per dolar AS.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi dari sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar memperhatikan sikap pemerintah terhadap rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) terkait kebijakan fiskal.
Ibrahim menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak usulan IMF untuk menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) karyawan atau PPh 21. Hal ini dilakukan demi menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Ibrahim, dalam kajian fiskal jangka panjang, IMF memang mendorong Indonesia untuk mempertimbangkan peningkatan pajak tenaga kerja secara bertahap. Tujuannya adalah untuk memperkuat pembiayaan investasi publik menuju target Visi Indonesia Emas 2045. Namun, pemerintah melihat bahwa posisi defisit APBN saat ini masih aman di bawah ambang batas yang ditetapkan.
“Dibanding mengerek tarif pajak karyawan, pemerintah lebih fokus pada perluasan basis pajak dan penutupan kebocoran penerimaan. Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan,” kata Ibrahim pada Kamis (19/2/2026).
Di sisi lain, pasar juga dibayangi minimnya kemajuan dalam upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Kondisi ini memperkuat risiko keamanan global dan meredupkan harapan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia.
Selain itu, risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga lanjutan. Meski begitu, mayoritas pembuat kebijakan sepakat bahwa risiko inflasi masih condong ke atas. Hal ini membuat suku bunga The Fed berpotensi bertahan tinggi lebih lama.
Untuk perdagangan hari Jumat (20/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.890 hingga Rp 16.930 per dolar AS.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
- Kebijakan Fiskal
Pemerintah menolak rekomendasi IMF untuk menaikkan pajak karyawan, sehingga memicu ketidakpastian di pasar. -
Perluasan basis pajak dan penutupan kebocoran penerimaan menjadi prioritas utama.
-
Perdamaian Rusia-Ukraina
Minimnya kemajuan dalam negosiasi antara Rusia dan Ukraina meningkatkan risiko keamanan global. -
Harapan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia semakin redup.
-
Kebijakan Federal Reserve
Risalah rapat kebijakan menunjukkan perbedaan pandangan tentang kebutuhan kenaikan suku bunga. - Mayoritas pembuat kebijakan tetap khawatir terhadap risiko inflasi yang tinggi.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
- Hari Jumat (20/2/2026)
Rupiah diperkirakan akan terus melemah dengan kisaran harga antara Rp 16.890 hingga Rp 16.930 per dolar AS. - Pergerakan terbatas disebabkan oleh tekanan dari faktor eksternal dan domestik.





