Perayaan Cap Go Meh Akan Digelar di Manado
Perayaan Cap Go Meh akan kembali digelar di Manado, Sulawesi Utara. Rencananya acara ini akan berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026. Lokasi utama perayaan tersebut adalah kawasan kampung Cina Manado, yang diprediksi akan ramai dengan ribuan orang. Tidak hanya warga lokal, tetapi juga masyarakat dari luar daerah dan para turis asing akan ikut merayakan.
Rute arak-arakan Cap Go Meh tahun ini diperkirakan mirip dengan tahun lalu. Rute tersebut dimulai dari depan Kelenteng Ban Hing Kiong, melewati area Pecinan, Toko Tek Ho Long, Calaca, SMA YPKM, New Bendar, Toko Indrajaya, kemudian berbalik ke Pecinan dan finish kembali di depan Kelenteng Ban Hin Kiong.
Arak-arakan Cap Go Meh terdiri dari dua jenis barisan, yaitu barisan non ritual dan barisan ritual. Barisan ritual mencakup kereta hias, kuda Lo Tjia, pikulan, Kiong serta Tangsin. Setiap elemen dalam barisan ini memiliki makna dan simbolisme tersendiri dalam tradisi Tionghoa.
Restu Dari Ritual Kelenteng
Ketua Kelenteng Ban Hing Kiong, Jemmy Binsar, menyatakan bahwa Cap Go Meh direstui untuk digelar di jalan raya. “Pelaksanaannya pada tanggal 3 Maret 2026,” ujarnya. Keputusan ini diambil setelah prosesi mohon petunjuk melalui ritual Poa Pwe di Kelenteng Ban Hing Kiong.
Dalam ritual tersebut, kayu Poa Pwe dilempar satu kali dan menunjukkan posisi satu terbuka serta satu tertutup, tanda bahwa acara tersebut direstui. Menurut Binsar, pelaksanaan tahun ini terasa istimewa karena untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir perayaan dapat berlangsung tiga kali berturut-turut di jalan raya.
“Kita berharap tahun depan dapat keluar lagi,” katanya. Ketua PTITD Komda Sulut, Fery Sondakh, menambahkan bahwa digelarnya Cap Go Meh di jalan raya dipercaya membawa keselarasan. “Istilahnya pembabaran dunia baru. Keselarasan akan tercipta antara manusia dan alam, manusia dengan manusia, dan lainnya,” ujarnya.
Apa Itu Cap Go Meh?
Cap Go Meh adalah puncak sekaligus penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar. Secara harfiah, istilah ini berasal dari dialek Hokkian: Cap berarti sepuluh, Go berarti lima, dan Meh berarti malam, yang secara keseluruhan bermakna “malam ke-15”.
Cap Go Meh dikenal secara internasional sebagai Lantern Festival atau Yuanxiao Jie. Acara ini sering dikaitkan dengan menyalakan lampion yang melambangkan harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Tradisi ini menjadi bagian penting dari budaya Tionghoa dan sering dirayakan dengan berbagai aktivitas seperti arak-arakan, pertunjukan, dan pameran lampion.





