Perayaan Harmoni di Tengah Keberagaman
Di kota Makassar, lampion-lampion merah bergoyang pelan di langit, seolah menyambut bulan Ramadhan yang datang bersamaan dengan sukacita Imlek. Di bawah cahaya itu, doa dan tawa bertemu. Siapa sangka, di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan, Indonesia justru merayakan keberagamannya dengan cara yang hangat dan menggetarkan?
Pada malam Sabtu (28/2), Festival Jappa Jokka Cap Go Meh di Kota Makassar menjadi panggung tempat cahaya toleransi menyala terang. Mengusung tema “Harmony in Light”, perayaan ini bukan sekadar agenda budaya masyarakat Tionghoa, melainkan ruang temu lintas iman, lintas suku, dan lintas tradisi. Ramadan dan Imlek yang beriringan seolah menjadi penanda bahwa perbedaan di negeri ini bukan untuk dijauhkan, melainkan dirayakan bersama.
Di tengah kerumunan, hadir Ustadz kondang Das’ad Latif. Dengan gaya komunikatif dan humoris yang khas, ia menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam: menghormati dan mencintai sesama adalah bagian dari iman.
“Kita hadir di sini bukan sekadar menikmati festival, tetapi sebagai bukti kecintaan kita kepada saudara-saudara kita,” ujarnya. Ia menegaskan, perayaan ini adalah wujud penghormatan kepada mereka yang “dilahirkan sebagai etnis Tionghoa oleh Allah SWT.”
Ceramah itu bukan sekadar tausiyah, melainkan jembatan batin. Umat Islam dan masyarakat Tionghoa duduk berdampingan, tersenyum, bahkan saling berbagi angpao dan hadiah kecil yang dibagikan sang ustadz kepada penonton. Tabligh Akbar malam itu terasa khidmat sekaligus riang. Ramadan mengajarkan pengendalian diri, Cap Go Meh mengajarkan kebersamaan, keduanya bertemu dalam satu napas harmoni.
Kehadiran Pesan Kebangsaan
Gema serupa juga terdengar di Jakarta. Dalam puncak acara Harmoni Imlek Nusantara, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyebut akulturasi budaya sebagai “source code” Indonesia. “Inilah Indonesia. Kita mau menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara paling inklusif di dunia karena kita adalah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda, tapi tetap satu,” ujarnya.
Di panggung rakyat itu, taichi beriringan dengan silat, wing chun bersanding dengan wushu. Barongsai menari di bawah gemerlap atraksi drone yang membentuk simbol-simbol cahaya di langit malam. Di sela-selanya, bazar produk lokal memamerkan karya anak bangsa. Budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga mesin penggerak ekonomi, membuktikan bahwa toleransi bisa melahirkan kesejahteraan.
Perayaan Harmoni Imlek Nusantara berlangsung di berbagai kota, seperti Palembang, Singkawang, Medan, Manado, Makassar, hingga Pontianak, seakan mengikat Nusantara dalam satu simpul perayaan yang sama. Di setiap kota, lampion-lampion menjadi saksi bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan denyut nadi kehidupan.
Kehidupan Beragam di Kota Bogor
Di Kota Bogor, harmoni itu berwujud lain. Kawasan Suryakencana kembali hidup dalam perayaan Cap Go Meh 1–3 Maret 2026. Ketua Panitia Cap Go Meh, Arifin Himawan, menegaskan bahwa setiap kegiatan harus memberi dampak nyata bagi ekonomi rakyat. Pasar Malam Jadoel digelar menjelang senja, sementara puncak perayaan berlangsung setelah shalat tarawih. Sebuah penataan yang halus—budaya dan ibadah berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
Di sana, pedagang kecil tersenyum melihat omzet meningkat. Wisatawan datang berbondong-bondong, menciptakan riuh yang membawa berkah. Cap Go Meh bukan hanya pesta warna dan bunyi, tetapi juga denyut ekonomi yang menghidupi banyak keluarga. Toleransi pun menemukan maknanya dalam keseharian: pada transaksi, pada senyum ramah, pada saling menghargai ruang dan waktu.
Kekuatan Negeri yang Beragam
Indonesia, dengan segala perbedaannya, seperti taman yang ditumbuhi beragam bunga. Ada yang merah menyala seperti lampion, ada yang putih teduh seperti sajadah. Keduanya tidak saling meniadakan, justru saling memperindah.
Di saat banyak bangsa bergulat dengan sekat identitas, Indonesia memilih merayakan persandingan. Ramadan dan Imlek berjalan beriringan, doa dan barongsai berdentang dalam satu ruang, ekonomi dan spiritualitas tumbuh bersama.
Barangkali, di sanalah rahasia kekuatan negeri ini: toleransi yang tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupkan. Sebab di Indonesia, perbedaan bukan alasan untuk berjarak—melainkan undangan untuk saling mendekat.





