Pentingnya Kesabaran dalam Kehidupuan
Salah satu nilai yang ingin dicapai selama bulan Ramadhan adalah meningkatkan sifat sabar. Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri kita dari berbagai godaan atau tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang tidak bisa menahan diri, maka itu disebut sebagai orang yang tidak sabar. Tidak bisa menahan diri bisa terjadi karena beberapa hal, seperti rasa kesusu, yaitu ketika seseorang belum saatnya melakukan sesuatu tetapi ingin segera melakukannya. Selain itu, menahan diri juga berarti tidak memberikan reaksi yang tidak terhitung atau tidak bijaksana ketika tiba-tiba ada seseorang yang menghina kita.
Dalam situasi seperti ini, kita harus belajar untuk bersabar. Bersabar bukan hanya dalam penderitaan, tetapi juga dalam berbuat kebaikan. Bahkan lebih dari itu, kesabaran juga diperlukan ketika menghadapi musibah. Setiap orang pernah merasakan bagaimana sakitnya dihina oleh orang lain. Oleh karena itu, ketika dihina, kita jangan terburu-buru memberikan respons.
Ketika kita diam dan tidak membalas hinaan, maka malaikat akan datang mengawal kita. Dalam sebuah hadis yang terdapat dalam kitab Attajul Jami, disebutkan bahwa suatu saat Abu Bakar pernah didatangi oleh seorang laki-laki yang menghina dirinya. Saat itu, Nabi Muhammad SAW sedang berada di samping Abu Bakar bersama para sahabat lainnya. Nabi dan Abu Bakar bertahan diam tanpa melawan.
Setelah dihina berkali-kali, akhirnya Abu Bakar membalas. Ketika itu, Nabi Muhammad SAW pergi meninggalkan Abu Bakar. Abu Bakar penasaran dan bertanya apakah Nabi marah kepadanya. Nabi menjelaskan bahwa malaikat yang awalnya mengawal Abu Bakar tidak percaya dengan omongan orang yang menghinanya. Namun, setelah Abu Bakar membalas, setan mulai mendekat. Oleh karena itu, Nabi pergi karena tidak mungkin duduk bersama setan.
Ini mengajarkan kita bahwa ketika dihina, kita sebaiknya tidak langsung merespons. Orang Jawa memiliki ungkapan “becek ketitik olok ketoro”, yang artinya jika kita bersabar, maka yang benar akan muncul dan yang salah akan terbukti. Oleh karena itu, kita jangan terlalu reaktif, terutama selama bulan Ramadhan, di mana tubuh kita sedang lapar dan mungkin mudah tersentuh.
Harus sadar bahwa ketika kita dihina, salah satu sifat sabar yang dimiliki adalah tidak merespon. Jika tidak merespon, maka malaikat akan datang. Bisa saja kita nanti diuji karena Allah ingin meningkatkan derajat kita. Ini adalah bagian dari proses pengujian yang dilakukan oleh Allah.
Di dalam kitab jilid satu, disebutkan bahwa seseorang yang sudah ditetapkan oleh Allah memiliki posisi yang mulia, seperti tangga ke-100 yang tinggi. Namun, amal yang ia miliki tidak cukup untuk mencapai posisi tersebut. Puasa, salat, dan zakatnya tidak cukup untuk sampai ke derajat yang tinggi itu. Oleh karena itu, Allah memberikan ujian kepada orang tersebut.
Ujian bisa datang melalui tubuhnya, misalnya dengan mengalami sakit berkepanjangan. Umur masih muda, tetapi penampilannya sudah seperti orang tua, tenaganya loyo, dan tidak bisa berbuat banyak. Itu adalah ujian melalui jasadnya. Ujian juga bisa melalui hartanya, seperti kebakaran atau pencurian. Atau melalui anaknya, seperti bapak tokoh tetapi anaknya keluar masuk penjara dan berperilaku onar.
Nabi Nuh pun pernah menghadapi ujian, tetapi ia tetap sabar menghadapi penderitaan yang diberikan oleh Allah. Kesabaran inilah yang membuatnya mencapai posisi yang mulia yang telah dijanjikan oleh Allah.
Oleh karena itu, pemirsa sekalian, kesabaran sangat penting. Ujian yang dihamparkan kepada kita adalah cara untuk memperkuat sifat sabar kita. Dan kesabaran ini akan membawa kita kepada posisi yang mulia. Renungan ini menjadi motivasi bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita. Amin.





