Sahur Keliling 2026 di Jombang: Shinta Nuriyah Wahid Ajak Warga Jaga Demokrasi dan Toleransi

Sahur Keliling Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid K6cj Dom
Sahur Keliling Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid K6cj Dom

Perayaan Sahur Keliling 2026 di Ponpes Khoiriyah Hasyim: Ruang Refleksi dan Persatuan

Pada Minggu dini hari, 1 Maret 2026, kompleks Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim di Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menjadi tempat berkumpulnya ratusan warga dari berbagai latar belakang. Acara sahur keliling yang digelar oleh komunitas GUSDURian Jombang ini menjadi momen penting dalam memperingati bulan Ramadan.

Acara dimulai sejak pukul 02.00 WIB dengan suasana yang berbeda dibandingkan biasanya. Tidak hanya sekadar kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi ruang dialog kebangsaan bersama Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri Presiden ke-4 RI, Gus Dur. Tema utama yang diangkat dalam acara tersebut adalah “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”. Hal ini menjadi ajang refleksi terhadap tantangan sosial dan politik yang tengah dihadapi Indonesia.

Merangkul Kaum Marjinal dan Lintas Iman

Dalam acara ini, peserta yang mencapai sekitar 600 orang berasal dari berbagai kalangan. Mereka terdiri atas pejabat daerah, tokoh lintas agama, pegiat komunitas, santri, serta kelompok masyarakat marjinal seperti tukang becak, buruh, pengamen, pemulung, dan penyandang disabilitas. Keberagaman peserta menjadi ciri khas dari acara ini.

Ketua panitia, Achmad Fathul Iman, menekankan bahwa Sahur Keliling bukan hanya seremoni tahunan. Menurutnya, di tengah tantangan demokrasi yang semakin menghadapi ujian, ruang-ruang perjumpaan seperti ini sangat penting untuk memperkuat fondasi sosial.

“Demokrasi bukan hanya soal proses politik, melainkan juga keberpihakan kepada yang lemah dan keberanian menjaga nurani publik. Sahur ini menjadi ruang untuk merawat nilai itu,” ujar Achmad Fathul Iman.

Sementara itu, Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak, Nyai Hj. Rika Fauziyah Andarini, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini. Ia berharap momentum sahur bersama dapat mempererat ukhuwah dalam berbagai dimensi, baik keislaman, kebangsaan, maupun kemanusiaan.

Dialog Kebangsaan dengan Shinta Nuriyah

Dalam sesi dialog, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai ruang merangkul keberagaman. Istri Presiden ke-4 RI itu menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi kemajemukan yang saling menguatkan.

“Keberagaman adalah kekuatan kita. Ramadan harus menjadi momentum untuk merangkul semua, tanpa memandang agama, suku, maupun status sosial,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia juga mengingatkan bahwa puasa tidak cukup dimaknai sebagai rutinitas tahunan semata. Menurutnya, ibadah tersebut harus membawa perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

“Puasa harus revolusioner. Ia mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik hingga mencapai ketakwaan,” ungkapnya.

Penampilan Seni dan Doa Bersama

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan seni dari komunitas GUSDURian dan perwakilan lintas agama, seperti barongsai dan banjari, sebagai simbol harmoni. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Subhanul Wathon, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta sambutan dari panitia dan tuan rumah.

Melalui Sahur Keliling 2026, GUSDURian Jombang berharap solidaritas sosial di tingkat lokal semakin kuat dan mampu berkontribusi pada gerakan kebangsaan yang lebih luas. Di tengah berbagai tantangan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa empati, persaudaraan, dan komitmen pada nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama dalam merawat Indonesia.


Pos terkait