Pesantren Raudhatul Qur’an: Santri Belajar Kemandirian Melalui Klinik dan Dagang Online
Di tengah keramaian kota Semarang, pesantren Raudhatul Qur’an di Kauman menawarkan pendidikan yang tidak hanya fokus pada hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memberikan bekal keterampilan hidup kepada santrinya. Dengan konsep pesantren kota, santri di sini dibekali dengan berbagai keterampilan yang akan membantu mereka dalam menjalani kehidupan sosial dan ekonomi setelah lulus.
Pendidikan yang Tidak Hanya Berbasis Tahfidz
Pesantren yang terletak di pusat Kota Semarang ini memiliki visi untuk menghasilkan santri yang mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Selain belajar menghafal Al-Qur’an, santri juga diajarkan untuk memahami dunia bisnis dan layanan kesehatan. Hal ini dilakukan melalui berbagai program seperti pembukaan klinik kecantikan dan pelatihan dagang online.
Salah satu contohnya adalah Kiwi Klinik, sebuah layanan kesehatan dan kecantikan yang dikelola oleh santri. Klinik ini tidak hanya menjadi tempat pelayanan bagi santri dan masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi sarana praktik keterampilan bagi santri dalam hal pelayanan kesehatan.
Menggunakan Media Sosial sebagai Sarana Dagang
Selain klinik, pesantren juga memanfaatkan media sosial untuk mengajarkan santri cara berdagang. Santri dilatih menggunakan platform seperti TikTok untuk melakukan siaran langsung dan memasarkan produk melalui fitur keranjang belanja. Sistem yang digunakan adalah afiliasi, sehingga santri tidak perlu memiliki stok barang atau modal besar.
“Kami ajarkan bahwa berdagang tidak harus punya produk sendiri. Tanpa tempat, tanpa modal besar, tetap bisa jualan lewat live,” ujar KH Khammad Ma’sum, pengasuh pesantren tersebut. Dengan begitu, santri belajar tentang komunikasi, membaca pasar, dan tanggung jawab.
Program Live Dagang yang Mulai Berkembang
Program live dagang ini awalnya dijalankan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa selama Ramadan. Namun, ke depan, kegiatan ini akan dijadikan rutinitas dengan pengaturan waktu yang lebih terstruktur. Meski masih tahap awal, sejumlah transaksi sudah berhasil dilakukan dan santri mulai mendapatkan komisi dari penjualan.
“Ini baru permulaan. Tapi mereka sudah mulai merasakan hasilnya. Setidaknya mereka tahu caranya, paham prosesnya. Itu bekal penting ketika nanti kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Kombinasi Pendidikan dan Kesiapan Sosial-Ekonomi
Pesantren saat ini memiliki sekitar 300 santri mukim, mayoritas santri putri, dengan target hafalan 30 juz. Seluruh kegiatan keterampilan akan dievaluasi jika dinilai mengganggu capaian utama tersebut. Dengan pendekatan ini, pesantren berupaya memadukan pendidikan tahfidz dengan kesiapan sosial dan ekonomi.
Di tengah hiruk-pikuk kota, para santri belajar bahwa berdakwah tak selalu dari mimbar kadang dari layar ponsel, kadang dari ruang klinik, sambil tetap menjaga hafalan yang menjadi fondasi utama.





