Santri Raudhatul Qur’an Jualan di TikTok Shop Saat Ngabuburit

Cantumkan Produk Lengkap Dengan Deskripsi Yang Jelas 1
Cantumkan Produk Lengkap Dengan Deskripsi Yang Jelas 1

Pesantren Raudhatul Qur’an: Kombinasi Pendidikan dan Kemandirian Santri

Pesantren Raudhatul Qur’an di Kauman, Kota Semarang, tidak hanya fokus pada penghafalan Al-Qur’an. Para santri juga diajarkan keterampilan hidup yang relevan dengan kehidupan modern, seperti menjalankan klinik kesehatan dan berdagang melalui media sosial.

Konsep Pesantren Kota

Lokasi pesantren yang berada di pusat Kota Semarang memengaruhi cara hidup para santri. Mereka tinggal di tengah aktivitas ekonomi dan sosial yang dinamis. Salah satu gedung pesantren digunakan sebagai tempat klinik kecantikan dan ruangan untuk berjualan secara live di TikTok Shop. Santri menampilkan barang dagangan seperti sarung, baju koko, abaya, dan kerudung selama siaran langsung.

Momen Ramadan menjadi peluang besar bagi santri dalam berdagang. Banyak masyarakat membeli barang untuk persiapan lebaran. Pengasuh pesantren, KH Khammad Ma’sum, menyatakan bahwa pola pembinaan santri harus sesuai dengan lingkungan sekitar.

“Santri harus bisa menempatkan diri. Harus bisa berdakwah di tengah-tengah kota, di tengah masyarakat kota,” ujarnya.

Pesantren ini berada di nol kilometer Kota Semarang, sehingga santri hidup di pusat keramaian, bukan di pinggiran. Menurutnya, bekal hafalan saja belum cukup. Santri perlu dipersiapkan agar tidak gagap ketika kembali ke masyarakat.

Pelatihan Keterampilan

Selain tahfidz, santri diberi kursus komputer, bahasa Arab, dakwah, serta pelatihan membuat roti, tata rias, dan belajar mengemudi mobil. Tujuannya adalah agar mereka siap bersosialisasi dan memiliki keterampilan.

Salah satu program keterampilan adalah Kiwi Klinik, layanan kesehatan dan kecantikan yang telah berjalan beberapa bulan. Klinik ini melayani santri dan masyarakat sekitar. Anak-anak belajar mempercantik diri dan membantu orang lain. Klinik ini bukan sekadar layanan, tetapi juga tempat praktik keterampilan mereka.

Berdagang Melalui Media Sosial

Pesantren juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar berdagang. Santri dilatih menggunakan platform TikTok untuk siaran langsung dan memasarkan produk melalui fitur keranjang belanja. Sistem yang digunakan adalah afiliasi, sehingga santri tidak perlu memiliki stok barang maupun modal besar.

“Kita ajarkan bahwa berdagang tidak harus punya produk sendiri. Tanpa tempat, tanpa modal besar, tetap bisa jualan lewat live. Mereka belajar komunikasi, belajar membaca pasar, dan belajar tanggung jawab,” ungkap KH Khammad Ma’sum.

Program live tersebut awalnya dijalankan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa selama Ramadan atau ngabuburit. Namun ke depan, kegiatan itu akan dijadikan rutinitas dengan pengaturan waktu yang lebih terstruktur.

“Sekarang masih sambil ngabuburit. Nanti kita jadwalkan rutin, tentu tidak boleh mengganggu hafalan. Tahfidz tetap prioritas,” tegasnya.

Evaluasi Kegiatan Keterampilan

Program live dagang tersebut baru berjalan hampir dua bulan. Meski masih tahap awal, sejumlah transaksi sudah berhasil dilakukan dan santri mulai mendapatkan komisi dari penjualan. Ini baru permulaan, tetapi mereka sudah mulai merasakan hasilnya. Setidaknya mereka tahu caranya, paham prosesnya. Itu bekal penting ketika nanti kembali ke masyarakat.

Pesantren saat ini memiliki sekitar 300 santri mukim, mayoritas santri putri, dengan target hafalan 30 juz. Seluruh kegiatan keterampilan akan dievaluasi jika dinilai mengganggu capaian utama tersebut.

Dengan pendekatan ini, pesantren berupaya memadukan pendidikan tahfidz dengan kesiapan sosial dan ekonomi. Di tengah hiruk-pikuk kota, para santri belajar bahwa berdakwah tak selalu dari mimbar, kadang dari layar ponsel, kadang dari ruang klinik, sambil tetap menjaga hafalan yang menjadi fondasi utama.


Pos terkait