Kehadiran dan Penghormatan SBY untuk Try Sutrisno
Kepulangan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggalkan kesan mendalam bagi banyak tokoh besar bangsa. Dalam upacara penghormatan terakhir yang berlangsung di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hadir untuk memberikan penghormatan kepada sang mentor. Bagi SBY, sosok Try Sutrisno bukan hanya seorang pejabat tinggi, tetapi juga menjadi kompas moral bagi generasi penerus.
Penghormatan dari SBY tidak hanya sekadar formalitas, melainkan ungkapan rasa hormat dan apresiasi atas dedikasi serta perjuangan almarhum. Dalam sambutannya, SBY menyampaikan pujian setinggi langit bagi Try Sutrisno, yang ia anggap sebagai prajurit patriot, pemimpin, dan teladan keluarga. “Beliau negarawan,” kata SBY dengan nada penuh takzim.
Kepergian Try Sutrisno pada usia 90 tahun di RSPAD Gatot Soebroto menjadi momen refleksi nasional. Prosesi pemakaman yang dilakukan secara militeristik namun penuh haru dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Presiden Prabowo Subianto, yang turut mengenang almarhum sebagai figur pemimpin yang hidup dalam kesederhanaan.
Lokasi Makam yang Simbolis
Liang lahat Try Sutrisno terletak di lokasi yang sangat simbolis. Beliau dimakamkan berdampingan dengan tokoh-tokoh besar seperti Pramono Edhie Wibowo dan Ani Yudhoyono. Tak jauh dari sana, berdiri pusara Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, dan istrinya, Hasri Ainun Besari. Letak makam ini menunjukkan penghargaan yang luar biasa terhadap jasa-jasa almarhum dalam membangun bangsa.
Sebagai bentuk duka cita nasional, istana telah menginstruksikan pengibaran bendera setengah tiang selama tiga hari ke depan. Hal ini menjadi tanda hormat atas pengabdian tanpa batas yang dilakukan oleh Jenderal Try Sutrisno.
Jejak Karier yang Menginspirasi
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, perjalanan karier Try Sutrisno adalah contoh dedikasi militer yang murni. Ia memulai kariernya sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Garis takdir mempertemukannya dengan Soeharto saat Operasi Pembebasan Irian Barat tahun 1962.
Kedekatan tersebut berlanjut hingga ia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974. Karier militernya melesat tajam:
- 1985: Menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad).
- 1986: Resmi dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).
- 1993: Terpilih oleh MPR sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto.
Masa jabatan beliau berakhir pada tahun 1998, yang kemudian diteruskan oleh BJ Habibie. Meski telah lama purna tugas, kharisma dan integritas Try Sutrisno tetap menjadi standar emas bagi definisi seorang prajurit dan negarawan di Indonesia.





