Schneider Electric memperkuat layanan dan dekarbonisasi industri dengan AI

Aa1xl7w7
Aa1xl7w7



Batam — Schneider Electric Indonesia memperkuat strategi layanan purnajual berbasis digital dan keberlanjutan melalui pengembangan West Service Hub di Batam, Kepulauan Riau.

Business Vice President Services & Sustainability Schneider Electric Indonesia Geraldi Tjhin menjelaskan bahwa layanan perusahaan kini tidak lagi terbatas pada perbaikan atau penggantian suku cadang. Schneider mengusung pendekatan end-to-end yang mencakup konsultasi teknis, pemeliharaan berbasis prediksi, hingga modernisasi aset industri.

“Selama ini, services identik dengan perbaikan saat terjadi kerusakan, lebih ke traditional services. Tetapi di Schneider kami punya end-to-end activity,” ujarnya dalam kunjungan awak media di Batam, Selasa (24/2/2026).

Transformasi layanan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan industri kritikal seperti pusat data (data center), manufaktur elektronik, hingga sektor energi.

“Selama ini services identik dengan perbaikan ketika rusak. Padahal kami memiliki pendekatan end-to-end mulai dari konsultasi, perawatan berbasis langganan, sampai modernisasi aset yang mendukung efisiensi energi dan pengurangan emisi,” jelas Geraldi.

Portofolio layanan Schneider dirangkum dalam tiga siklus utama, yakni EcoConsult, EcoCare, dan EcoFit.

EcoConsult: Audit dan Asesmen Teknis

EcoConsult berfokus pada audit dan asesmen teknis, mulai dari audit energi, verifikasi keselamatan kelistrikan, hingga pemetaan kondisi aset. Tim konsultan yang berbasis di Jakarta tersebut juga mendukung kawasan Asia Timur dengan pengalaman proyek di Jepang, Korea, dan Thailand.

“Hasil audit bisa menunjukkan opsi investasi, proyeksi ROI [return of investment], hingga potensi penurunan emisi karbon. Jadi pelanggan punya roadmap yang jelas sebelum mengambil keputusan,” paparnya.

EcoCare: Pemeliharaan Berbasis Keanggotaan

Tahap berikutnya adalah EcoCare, layanan pemeliharaan berbasis keanggotaan dengan dukungan pemantauan digital. Sistem ini memanfaatkan sensor dan dashboard real-time berbasis cloud untuk memantau parameter kritikal peralatan.

Data operasional kemudian dianalisis menggunakan machine learning dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) guna mendeteksi anomali serta memprediksi potensi gangguan sebelum terjadi kerusakan.

“Dulu maintenance bersifat corrective, datang setelah rusak. Lalu berkembang jadi preventive [pencegahan] berbasis kalender. Sekarang kami bergerak ke predictive maintenance berbasis kondisi dan data aktual,” jelas Geraldi.

Pendekatan ini dinilai krusial bagi industri seperti data center yang mensyaratkan tingkat keandalan hingga 99,93% atau downtime maksimal sekitar satu jam per tahun sesuai service level agreement (SLA).

EcoFit: Modernisasi dan Retrofit

Sementara itu, EcoFit berfokus pada modernisasi dan retrofit tanpa harus mengganti seluruh sistem. Langkah ini mencakup penggantian komponen kritikal hingga konversi ke teknologi yang lebih ramah lingkungan, termasuk solusi bebas gas SF6 yang berpotensi merusak lingkungan.

“Tidak semua harus diganti. Dengan perawatan yang tepat, umur aset bisa diperpanjang dan efisiensi meningkat. Ini bagian dari komitmen sustainability kami,” ujarnya.

Secara global, Schneider Electric beroperasi di lebih dari 100 negara dengan sekitar 200 fasilitas produksi dan lebih dari 150.000 karyawan. Perusahaan menargetkan bebas karbon atau net zero carbon pada 2030 untuk operasinya.

Di Indonesia, Batam dipilih sebagai pusat layanan strategis karena kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia serta akses ke wilayah barat Indonesia seperti Medan, Pekanbaru, hingga Aceh. West Service Hub Batam telah menangani sedikitnya empat proyek besar, termasuk fasilitas data center di Nongsa Digital Park dan proyek industri yang menjangkau Papua.

Selain penguatan infrastruktur digital, Schneider juga membangun Center of Excellence di Batam untuk pengembangan talenta lokal.

“Fasilitas ini tidak hanya melatih teknisi internal, tetapi juga mitra tersertifikasi dan pelanggan, guna meningkatkan pemahaman produk dan respons terhadap potensi gangguan sistem,” katanya.

Menurut Geraldi, meski teknologi AI menjadi tulang punggung layanan prediktif, interaksi manusia tetap menjadi kunci dalam bisnis layanan.

“Teknologi membantu memberi peringatan dini, tetapi kedekatan dengan pelanggan, kecepatan respons, dan kompetensi teknisi lokal tetap menentukan kualitas layanan,” kata Geraldi.

Dengan integrasi konsultasi teknis, monitoring digital berbasis AI, serta pendekatan keberlanjutan, Schneider Electric menargetkan peningkatan pengalaman pelanggan secara menyeluruh sekaligus mendukung transformasi industri nasional menuju efisiensi energi dan dekarbonisasi.

Pos terkait