JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi syariah nasional mencapai kisaran 4,9% hingga 5,7% pada tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada kinerja sektor halal dan pembiayaan perbankan syariah yang terus meningkat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peluncuran Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025, Kick-Off Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026, serta seminar Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026 di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Imam Hartono, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, menjelaskan bahwa sektor keuangan syariah terus berkembang seiring dengan perkembangan rantai nilai syariah (sharia value chain/SVC). Pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2025 mencapai 5,11% year on year (yoy), sementara sektor halal value chain (HVC) tumbuh lebih tinggi, yaitu 6,2% (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kinerja sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta busana muslim.
“Kontribusi HVC terhadap PDB naik 155 basis poin, dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025,” ujarnya.
Pada akhir 2025, pembiayaan perbankan syariah tumbuh sebesar 9,66% (yoy), didukung oleh penyaluran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun atau 4,49% dari batas 5,5% per Desember 2025.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai total aset perbankan syariah telah menembus level tertinggi sepanjang sejarah. Ayahandayani Kussetyowati, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah OJK, menyebut total aset perbankan syariah mencapai Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92% yoy. Penyaluran pembiayaan syariah mencapai Rp705,22 triliun (tumbuh 9,58% yoy), sementara penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp892,99 triliun (tumbuh 10,14% yoy).
Program BPS turut menunjukkan hasil positif. Pada tahun lalu, realisasi pembiayaan BPS mencapai Rp939 miliar, 60% melampaui target Rp589 miliar. Tahun ini, BI menyempurnakan BPS melalui perluasan ke sektor keuangan sosial, pelibatan usaha rintisan (startup) dan Industri Keuangan Nonbank (IKNB), serta optimalisasi platform digital.
Kick-Off BPS 2026 ditandai penandatanganan komitmen sinergi bersama 10 kementerian dan lembaga.
Di sisi pasar uang dan pasar valas (PUVA) syariah, pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah oleh perbankan meningkat signifikan 86,5% (yoy) menjadi US$466 juta. Dari sisi keuangan sosial, penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS) melalui Baznas mencapai Rp52,5 triliun hingga kuartal II 2025, naik 43% dibandingkan akumulatif 2024. Instrumen Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22% (yoy) dengan outstanding Rp1,4 triliun. Literasi masyarakat terhadap ekonomi syariah kini mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.
Meski berada pada tren positif, Ayahandayani mengakui industri keuangan syariah masih menghadapi tantangan struktural, terutama skala permodalan yang rendah serta infrastruktur layanan yang belum optimal. Pihaknya berharap inklusi keuangan syariah ke depan juga mencakup bagaimana instrumen syariah bisa menjadi katalisator bagi ekosistem halal, termasuk UMKM, pesantren, dan koperasi. “Kami tetap mendukung kebijakan spin-off dan mendorong semakin banyak bank syariah berskala besar muncul pada 1-2 tahun mendatang,” ujarnya.
Kisaran pertumbuhan ekonomi syariah 4,9%-5,7% pada 2026 ditopang oleh sektor unggulan HVC serta pembiayaan perbankan syariah yang diperkirakan tumbuh 8% hingga 12%. Melalui Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah 2030, BI mendorong integrasi HVC dengan sistem pembiayaan syariah yang lebih inovatif guna memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
“Komitmen pemerintah melalui implementasi Asta Cita serta penempatan ekonomi syariah sebagai pilar strategis dalam RPJPN 2025-2045 dan RPJMN 2025–2029, diharapkan semakin memperkuat peran ekonomi dan keuangan syariah dalam mendukung pembangunan nasional yang inklusif, adil, dan berkelanjutan,” pungkas Imam.
Buku KEKSI 2025 dapat diunduh dalam format digital melalui laman resmi BI di https://www.bi.go.id/id/KEKSI/default.aspx.





