Peran Sektor Manufaktur dalam Perekonomian Indonesia
Sektor manufaktur memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Enrico Tanuwidjaja, ASEAN Economist UOB, di tengah situasi yang semakin sulit bagi kelas menengah, membuka peluang kerja di sektor manufaktur menjadi sangat krusial.
Peningkatan Sisi Permintaan
Enrico menekankan bahwa pemerintah saat ini perlu lebih fokus pada peningkatan sisi permintaan daripada pasokan dari sektor manufaktur. Ia menyatakan bahwa masalah utama di Indonesia dan dunia adalah ketidakpercayaan masyarakat terhadap konsumsi.
“Masalahnya adalah sisi permintaan. Kepercayaan untuk berkonsumsi sudah mulai tergerus,” ujar Enrico.
Krisis kepercayaan ini akhirnya menyebabkan penurunan permintaan di kalangan kelas menengah.
Ia menegaskan bahwa sektor manufaktur harus dikembalikan karena menjadi tulang punggung suatu negara, termasuk di Indonesia.
Peningkatan Daya Beli Kelas Menengah

Enrico menjelaskan bahwa perkembangan di sektor manufaktur juga dapat mengembalikan daya beli masyarakat kelas menengah.
“Jadi penting sekali mereka menyerap tenaga kerja, meningkatkan daya beli, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sektor manufaktur yang bisa menarik modal asing saat ini didominasi oleh transportasi, pergudangan, logistik, hingga pertanian.
“Itu menurut saya lagi hot, itu perlu terus ditekankan,” tambah Enrico.
Penurunan Jumlah Masyarakat Kelas Menengah

Emillya Soesanto, Deposit, Wealth Management and Training Head, UOB Indonesia menjelaskan bahwa jumlah kelas menengah di Indonesia terus merosot dari waktu ke waktu.
Pada 2021, jumlah kelas menengah mencapai 57,3 juta atau sekitar 21,5 persen. Namun, jumlah ini turun menjadi 47,9 juta atau 17,1 persen pada 2024. Tahun lalu, kelas menengah di Indonesia kian susut menjadi 46,7 juta atau 16,6 persen pada 2025.
“Kontribusi dari kelas menengah ini sangat besar, termasuk dari sisi konsumsi. Kontribusinya sebesar 81,5 persen terhadap total ekonomi Indonesia,” ujar Emillya.
Dari data tersebut, terlihat bahwa kelas menengah masih menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia. Namun, tren penurunan jumlah kelas menengah menunjukkan adanya tantangan yang perlu segera diatasi.
Tantangan dan Solusi
Tantangan yang dihadapi kelas menengah tidak hanya terkait dengan daya beli, tetapi juga dengan akses terhadap layanan keuangan, pendidikan, dan perumahan.
Beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan antara lain:
Peningkatan investasi di sektor manufaktur untuk menciptakan lapangan kerja.
Penguatan kebijakan fiskal yang mendukung kelas menengah.
Pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Peningkatan akses terhadap layanan keuangan dan perumahan yang terjangkau.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kelas menengah dapat kembali bangkit dan berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian nasional.





