Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Pasar Minyak Diguncang 150 Kapal Tanker Berhenti

Aa1hnnks 1
Aa1hnnks 1



JAKARTA – Sejumlah kapal dilaporkan mengalami serangan di sekitar Selat Hormuz, sementara Iran terus melakukan aksi militer di kawasan Timur Tengah sebagai respons terhadap operasi AS dan Israel. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut dua kapal terkena serangan, sedangkan proyektil tak dikenal meledak dekat dengan kapal ketiga.

Sebelumnya, Iran telah memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Aktivitas pelayaran internasional di area tersebut hampir berhenti total. Kekhawatiran akan gangguan distribusi minyak mendorong kenaikan harga secara global.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim tiga kapal tanker milik Inggris dan AS terkena serangan rudal dan terbakar. Namun, pemerintah Inggris dan AS belum memberikan pernyataan resmi.

UKMTO melaporkan adanya “beberapa insiden keamanan” di Teluk Arab dan Teluk Oman. Otoritas tersebut menyarankan kapal-kapal untuk berlayar dengan sangat hati-hati.

Platform pelacakan kapal Kpler mencatat setidaknya 150 kapal tanker menjatuhkan jangkar di perairan Teluk, di luar Selat Hormuz. Meski begitu, beberapa kapal berbendera Iran dan China masih melintasi area tersebut.

“Iran secara efektif telah menutup selat itu,” kata analis Kpler, Homayoun Falakshahi, kepada BBC News. Ia menjelaskan bahwa operator kapal memilih untuk tidak memasuki selat karena risiko tinggi dan biaya asuransi yang meningkat drastis.

Falakshahi memperkirakan AS akan berusaha melindungi jalur pelayaran tersebut. Jika berhasil, lonjakan harga minyak bisa dikendalikan. Namun, jika penutupan berlangsung lama, harga berpotensi melonjak lebih jauh lagi.

UKMTO melaporkan dua kapal yang tidak diidentifikasi terkena proyektil tak dikenal hingga menyebabkan kebakaran. Proyektil lain meledak sangat dekat dengan kapal ketiga, tetapi seluruh awak dilaporkan selamat. Terdapat juga insiden keempat yang melibatkan evakuasi awak kapal, meskipun penyebabnya belum diketahui.

Perusahaan keamanan maritim swasta Vanguard Tech menyatakan bahwa insiden-insiden tersebut melibatkan kapal berbendera Gibraltar, Palau, Kepulauan Marshall, dan Liberia.

Sementara itu, perusahaan pelayaran Denmark, Maersk, mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez. Kapal-kapal dialihkan melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Harga Minyak Terancam Melonjak

Perdagangan minyak Brent dijadwalkan dibuka pada pukul 23.00 GMT Ahad. Namun, transaksi di luar bursa menunjukkan harga telah melonjak sekitar 10 persen ke level 80 dolar AS per barel.

Beberapa analis memperkirakan harga dapat menembus 100 dolar AS per barel jika konflik berkepanjangan. Kelompok produsen minyak OPEC+ yang mencakup Arab Saudi dan Rusia sepakat meningkatkan produksi sebesar 206 ribu barel per hari untuk meredam kenaikan harga. Namun, sebagian pengamat meragukan efektivitas langkah tersebut.

Presiden AA Inggris, Edmund King, memperingatkan gangguan distribusi minyak dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar secara global. “Gejolak dan pemboman di Timur Tengah hampir pasti mengganggu distribusi minyak global, yang pada akhirnya akan memicu kenaikan harga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa besaran dan durasi kenaikan harga bahan bakar sangat bergantung pada lamanya konflik berlangsung.

Pos terkait