Selat Hormuz Tertutup: Dampak Perang Iran vs AS-Israel pada Indonesia, Termasuk Priangan

Aa1xllkv
Aa1xllkv

Perang Global yang Mengancam Kestabilan Ekonomi dan Energi Dunia

Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kembali memanas sejak akhir Februari 2026 menjadi isu global yang banyak dibahas belakangan ini. Konflik ini tidak hanya memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasar komoditas global. Puncak dari konflik ini terjadi pada 1 Maret 2026, ketika operasi militer yang menyasar berbagai fasilitas strategis di Iran mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Kondisi ini memperparah situasi geopolitik di kawasan, yang berpotensi memicu konflik baru dan mengganggu keseimbangan ekonomi global. Meskipun sektor industri Iran telah bertahun-tahun berada di bawah tekanan sanksi Amerika Serikat, negara ini tetap memegang peranan penting dalam peta ekonomi dan energi global, sehingga dampaknya sangat dirasakan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pemblokiran Selat Hormuz dan Dampaknya



Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena menjadi jalur laut paling penting di dunia, dengan adanya jalur Selat Hormuz. Keberadaan selat yang hanya lebarnya 21 mil tersebut menjadi titik ekonomi global yang bisa saja mencekik perekonomian dunia dengan sekejap mata. Selat ini terletak antara Teluk Persia dan Laut Oman, dan setiap harinya dilintasi sekitar 30 persen produksi minyak global. Sekitar 20 barel ditambah sejumlah pasokan LNG menjadi penggerak mobilitas kehidupan di Eropa melintas di jalur penting ini.

Jika jalur ini ditutup, maka akan terjadi keterlambatan dan penumpukan sistem angkutan minyak dunia karena harus memutar jalur lintasan yang lebih jauh, yaitu Afrika. Hal ini menyebabkan keterlambatan berminggu-minggu dan menelan biaya besar dari biasanya. Disinilah titik masalah sebenarnya secara global, sebab harga minyak akan naik, inflasi meningkat, dan perdagangan global akan melambat dalam skala besar.

Dampak bagi Indonesia

Dampak dari penutupan Selat Hormuz tidak hanya terasa di tingkat global, tetapi juga berdampak langsung terhadap Indonesia, terutama di Jawa Barat. Berikut adalah beberapa dampak yang mungkin terjadi:

  1. Naiknya Harga Bahan Bakar yang Tinggi

    Pengamat Ekonomi Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, menyebut perang Amerika Selatan dan Israel kepada Iran yang terjadi saat ini membawa konsekuensi luas. Salah satunya efek domino perekonomian. Aknolt menjelaskan, pertama, dampak perekonomian global salah satunya terjadi kenaikan harga energi. Pemerintah kemudian mengambil langkah untuk menjawab situasi ini, per 1 Maret 2026 harga BBM non-subsidi resmi naik. Meski begitu, harga BBM subsidi masih tetap di angka Rp10 ribu. Tidak hanya itu, negara-negara yang membutuhkan (importir) energi seperti Jepang, India, dan negara-negara Eropa akan menghadapi tekanan inflasi tambahan. Aknolt menyoroti dalam konteks yang lebih luas, situasi ini akan menyebabkan risiko stagflasi global, dimana pertumbuhan ekonomi melambat atau bahkan stagnan dan tingkat inflasi naik.

  2. Disrupsi Rantai Pasok dan Perdagangan

    Situasi di Timur Tengah membuat pelaku industri menghentikan atau mengalihkan jalur aktivitas bisnisnya di wilayah Timur Tengah. Kenaikan biaya ini bukan tanpa alasan. Tambahan jalur atau rute logistik yang tentu membutuhkan biaya dan bahan bakar lebih banyak. Ketegangan geopolitik global mulai menunjukkan dampaknya ke pasar keuangan.

  3. Pengalokasian Anggaran Pembangunan dari Pemerintah ke Arah Perlindungan Sosial

    Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak. Sehingga meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia secara nasional. Sebab Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor minyak yang bisa saja mengalami fluktuasi dikemudian hari.

  4. Rupiah Melemah

    Pelemahan rupiah bisa semakin dalam, bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan memicu inflasi barang impor karena banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.

  5. Memicu Gerakan Radikal Transnasional dan Sentimen Anti-Barat di Tanah Air

    Kuatnya instabilitas di Timur Tengah juga bisa mengundang stigma dan kepercayaan nasional mengenai Sentimen Anti-Barat atau Radikal Transnasional. Pasalnya, Indonesia sediri merupakan satu dari sekian negara yang tumbuh beriringan dengan konflik di beberapa daerah. Dimana pemantik-pemantik tersebut bisa saja memanfaatkan situasi dan menyerang dari dalam. Pasalnya, jika hal ini terjadi bisa dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel-sel tidur di Asia Tenggara.

Ditengah situasi geopolitik yang sangat kompleks dan tidak stabil saat ini, bahkan hanya akan menghitung jam lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketegangan. Untuk itu, pemerintah juga perlu memperkuat fondasi ekonomi untuk fokus pada pembangunan ekonomi dalam negeri, terutama sektor energi. Hal ini demi mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan menghadapi fluktuasi harga minyak dunia. Diversifikasi energi dapat meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.

Pos terkait