Dampak Penutupan Selat Hormuz pada Biaya Logistik dan Harga Barang di Indonesia
Penutupan Selat Hormuz akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha di Indonesia. Sejumlah ahli dan pengusaha mulai menghitung potensi kenaikan biaya logistik dan harga barang yang bisa terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Perkembangan Terkini
Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG), kini ditutup untuk pelayaran internasional. Penutupan ini dilakukan oleh Iran setelah serangan gabungan AS dan Israel, yang menimbulkan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG.
Ketua Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Tutum Rahanta, menyatakan bahwa situasi ini akan berdampak pada kenaikan biaya logistik. Meskipun saat ini produk konsumsi yang masuk ke pasar Indonesia lebih banyak berasal dari Asia, kenaikan biaya logistik akan berujung pada kenaikan harga barang di dalam negeri.
Kenaikan Biaya Logistik dan Dampaknya
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, menjelaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat meningkatkan biaya distribusi nasional dan memicu kenaikan harga barang. Menurutnya, setiap gangguan di jalur ini dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.
Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen. Saat ini, solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.
Setijadi memperhitungkan kenaikan harga ini dalam tiga skenario:
- Skenario moderat: Kenaikan harga minyak global sebesar 25 dolar AS per barel berpotensi mendorong kenaikan harga solar Rp 750-Rp 2.000 per liter.
- Skenario lebih berat: Kenaikan harga minyak dunia bisa mencapai 50 dolar AS per barel.
- Skenario ekstrem: Kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen.
Dengan rata-rata biaya logistik di Indonesia sekitar 14 persen dari harga produk dan sekitar separuh komponen logistik berasal dari transportasi jalan, Setijadi memperkirakan bahwa kenaikan ongkos truk 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata 0,5 persen.
Dampak pada Sektor Ekonomi
Setijadi juga menyoroti risiko inflasi biaya produksi yang berdampak pada komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Industri berbasis impor bahan baku kini menghadapi risiko ganda, yakni kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak serta peningkatan biaya distribusi domestik.
Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin. Oleh karena itu, Setijadi menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi.
Langkah yang Diperlukan
Untuk mengurangi dampak negatif dari kenaikan biaya logistik, Setijadi menyarankan beberapa langkah:
- Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api.
- Efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, serta mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik.
- Reformasi struktural sistem logistik untuk mengurangi sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.
Tanpa reformasi tersebut, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat.





