Manajer Borneo FC, Dandri Dauri, mengungkapkan rasa kesal setelah mengetahui bahwa Pesut Etam tidak bisa melakukan sesi latihan resmi di Jakarta International Stadium (JIS), Sunter, Jakarta Utara, Senin (2/3/2026). Kondisi ini terjadi menjelang laga melawan Persija Jakarta.
Situasi sempat memanas baik di luar maupun di dalam JIS. Awalnya, skuad Borneo FC tiba di JIS pada pukul 16.00 WIB. Mereka berharap bisa menjalani sesi latihan resmi di dalam stadion. Namun, pihak Panpel Persija melarang mereka menggunakan lapangan tersebut.
Menurut informasi awal, Persija dan Borneo FC hanya diperbolehkan berlatih di Lapangan Latih yang berada di luar JIS. Hal ini juga berlaku bagi klub-klub lain yang bertanding melawan Persija. Namun, informasi tersebut ternyata tidak diterima dengan baik oleh pihak Borneo FC.
Dandri menyebutkan bahwa pihaknya baru menerima informasi tersebut lima menit setelah tiba di JIS. Ia mengaku tidak tahu bahwa mereka harus berlatih di Lapangan Latih. Menurut Dandri, kejadian ini cukup mengejutkan karena sebelumnya tidak ada indikasi bahwa timnya tidak diperbolehkan menggunakan lapangan utama.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Borneo FC bisa berlatih di JIS. Persija juga melakukan hal serupa. Macan Kemayoran biasanya berlatih di Lapangan Latih, tetapi kali ini mereka bisa menggunakan JIS sebagai persiapan akhir sebelum melawan Borneo FC.
“Di mana aturan mainnya ketika kami sampai dalam waktu lima menit masuk pintu stadion, baru mendapatkan surat pemberitahuan tidak dapat menggunakan lapangan di dalam dan harus menggunakan lapangan luar,” ujar Dandri kepada awak media.
Ia menegaskan bahwa meskipun regulasi memang ada benarnya, pemberitahuan jangan dilakukan secara mendadak. “Itu yang saya sesalkan,” tambahnya.
Dandri juga mempertanyakan alasan di balik keputusan mendadak tersebut. Terlebih, laga antara Borneo FC dan Persija menjadi sorotan karena keduanya bersaing di papan atas klasemen sementara Super League 2025/2026.
“Kenapa harus mendadak? Ada apa? Apakah terlalu cepat perhelatan Persija dan Borneo? Suasana memanas atau bagaimana? Ini teman-teman menilai,” tegas Dandri.
Meski sempat kesal, Dandri mencoba melihat sisi positif dari kejadian ini. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai pelajaran berharga yang akan ia bawa pulang ke daerah asalnya di Kalimantan Timur, terutama ketika suatu saat Borneo FC menjadi tuan rumah.
“Kalau Borneo FC diperlakukan seperti itu, berarti ada pelajaran dari ibu kota untuk saya bawa ke ibu kota saya nanti, ke IKN saya. Ketika saya nanti menjadi tuan rumah ke depan, artinya pelajaran hari ini sama-sama kita belajar,” ucap Dandri.
Ia menambahkan bahwa dirinya sebenarnya termasuk pihak yang paling memahami situasi darurat. Seperti ketika jadwal pertandingan pernah berubah karena faktor force majeure. Namun menurutnya, kondisi kali ini berbeda karena tidak ada kendala teknis yang jelas terlihat.
“Yang katanya JIS lagi perawatan, Anda bisa lihat sendiri. Mana perawatannya? Kalau tim lain bisa dilakukan seperti itu, saya tidak bisa. Karena saya memberikan yang sama. Hak yang sama di Segiri. Teman-teman Persija berlatih nyaman. Lampu saya nyalakan. Artinya apa yang menjadi regulasi harus kita sama-sama patuhi,” ucap Dandri.
Dandri bahkan mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui fakta bahwa banyak tim lawan sebelumnya selalu menjalani latihan di luar stadion saat menghadapi Persija di venue tersebut.
“Malah saya baru tahu itu. Makanya kami tim dari luar Pulau Jawa, dari Kalimantan sendirian ini, baru tahu ini.”
“Intinya kami bersyukur kalau kami bisa latihan di dalam,” tutup Dandri.
Adapun Borneo FC akan melawan Persija pada pekan ke-24 Super League 2025/2026 di JIS, Selasa (3/3/2026).





