Kekuatan Rudal Iran dalam Konflik dengan AS dan Israel
Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi. Sebagai respons, Iran langsung merespons dengan mengumumkan serangan balasan yang ditujukan ke Israel dan fasilitas militer yang terkait dengan AS di berbagai titik kawasan, termasuk negara-negara Teluk.
Aksi saling serang ini langsung memicu kecemasan tidak hanya di ibu kota negara-negara kawasan, tetapi juga di pasar global. Banyak orang mulai bertanya-tanya apakah konflik ini akan berhenti sebagai pola aksi-reaksi atau justru berkembang menjadi operasi militer berkepanjangan. Semua itu bergantung pada kemampuan serangan Iran, daya tahan sekutunya, hingga potensi gangguan terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur energi vital bagi dunia.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa ketegangan belum akan selesai dalam waktu dekat. Ia menyatakan bahwa prosesnya memakan waktu empat minggu. “Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Biasanya memang sekitar empat minggu, jadi sekuat apa pun negara ini, karena ini negara besar akan membutuhkan empat minggu, atau bahkan kurang,” ujar Trump.
Kekuatan Rudal Iran
Laporan Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026) menyebut pusat perhatian kini tertuju pada kekuatan rudal Iran. Bukan hanya jumlahnya, tetapi juga variasi platform peluncur dan sistem pendukung yang memungkinkan Teheran menjangkau target-target strategis. Iran selama ini dikenal memiliki beragam rudal balistik jarak pendek hingga menengah, yang dirancang untuk menjangkau pangkalan militer dan infrastruktur vital di kawasan. Dalam situasi seperti sekarang, kemampuan itulah yang menjadi kartu utama Teheran.
Berbeda dengan perang 12 hari yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Juni 2025, kematian Khamenei dinilai mengubah psikologi konflik. Di mata para analis, situasi kali ini dipersepsikan Iran sebagai pertaruhan eksistensial bagi Republik Islam. Dalam narasi resmi Teheran, respons yang ditunda atau dibatasi justru bisa dipandang sebagai tanda kelemahan. Risiko itu, bagi mereka, berpotensi membuka jalan bagi serangan lanjutan.
Pada Minggu (1/3/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tersebut. Ia menyebut membalas kematian Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya sebagai “kewajiban dan hak yang sah” bagi negaranya. Dengan pernyataan itu, pesan Iran menjadi jelas: respons militer bukan sekadar opsi, melainkan bagian dari strategi mempertahankan wibawa dan kelangsungan negara di tengah tekanan besar dari dua kekuatan sekaligus, AS dan Israel.
Macam-macam Rudal Iran untuk Membalas Serangan AS dan Israel
Persenjataan rudal menjadi pusat strategi tempur sekaligus alat sinyal politik Iran. Analis pertahanan menyebutnya sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, meliputi rudal balistik dan jelajah, serta dirancang agar Teheran tetap memiliki daya jangkau meski tanpa angkatan udara modern.
Para pejabat Iran memandang program rudal tersebut sebagai fondasi utama daya tangkal, terutama karena armada udaranya masih mengandalkan pesawat-pesawat tua. Sementara itu, pemerintah Barat menilai rudal Iran memperburuk ketidakstabilan kawasan dan berpotensi mendukung kemampuan pengiriman senjata nuklir di masa depan, tuduhan yang dibantah Teheran.
Rudal balistik jarak jauh Iran memiliki jangkauan sekitar 2.000 hingga 2.500 kilometer. Dengan kemampuan itu, rudal tersebut dapat menjangkau Israel, pangkalan-pangkalan yang berafiliasi dengan AS di kawasan Teluk, serta sebagian besar wilayah sekitarnya. Namun tidak mampu mencapai daratan Amerika Serikat, berbeda dengan klaim Trump dan sejumlah pihak di lingkarannya.
1. Rudal Jarak Pendek sebagai Pukulan Pembuka
Rudal balistik jarak pendek dengan jangkauan sekitar 150 hingga 800 kilometer dirancang untuk menghantam sasaran militer terdekat dan melancarkan serangan regional secara cepat. Sistem utamanya meliputi keluarga Fateh seperti Zolfaghar dan Qiam-1, serta Shahab-1 dan Shahab-2 yang lebih lama.
Dalam kondisi krisis, jarak yang lebih pendek justru bisa menjadi keunggulan karena rudal dapat ditembakkan secara bertubi-tubi, memangkas waktu peringatan dan menyulitkan lawan melakukan serangan pendahuluan. Strategi ini pernah diterapkan Iran pada Januari 2020 saat meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara Ain al-Assad di Irak, menyusul pembunuhan Qassem Soleimani oleh AS.
2. Rudal Jarak Menengah: Mengubah Peta
Jika rudal jarak pendek menjadi respons cepat Iran, maka rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan sekitar 1.500 hingga 2.000 kilometer. Sistem seperti Shahab-3, Emad, Ghadr-1, varian Khorramshahr, dan Sejjil menopang kemampuan Iran untuk menyerang sasaran yang lebih jauh, ditambah desain yang lebih baru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.
Sejjil menarik perhatian karena memakai bahan bakar padat, yang biasanya memungkinkan proses peluncuran dilakukan lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair. Keunggulan ini penting jika Iran mengantisipasi serangan dan memerlukan sistem yang lebih siap, tangguh, serta responsif. Secara keseluruhan, rudal jarak menengah ini menempatkan Israel dan banyak fasilitas yang terkait dengan AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab dalam jangkauan, sehingga memperluas daftar target potensial Iran sekaligus meningkatkan kerentanan kawasan.
3. Rudal Jelajah dan Drone
Rudal jelajah melesat pada ketinggian rendah dan dapat mengikuti kontur permukaan bumi, sehingga lebih sulit dideteksi maupun dilacak. Tantangan ini semakin besar ketika rudal tersebut diluncurkan bersamaan dengan drone atau salvo rudal balistik yang dirancang untuk membebani sistem pertahanan udara.
Iran diyakini memiliki berbagai rudal jelajah serang darat dan anti-kapal, seperti Soumar, Ya-Ali, varian Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad. Soumar disebut memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer. Drone menghadirkan tekanan tambahan dalam skema serangan. Meski bergerak lebih lambat dari rudal, harganya lebih murah dan dapat diluncurkan secara massal dalam gelombang berulang untuk menguras pertahanan udara serta memaksa bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi siaga berjam-jam, bukan hanya menit.
4. “Kota Rudal” Bawah Tanah
Jumlah rudal memang krusial, namun dalam konflik yang berkepanjangan, persoalan utamanya adalah seberapa lama Iran mampu terus meluncurkan serangan setelah lebih dulu dihantam. Selama bertahun-tahun, Teheran memperkuat sebagian programnya melalui jaringan terowongan bawah tanah, fasilitas penyimpanan tersembunyi, serta lokasi peluncuran yang terlindungi di berbagai wilayah.
Infrastruktur ini menyulitkan upaya untuk segera melumpuhkan kemampuan serangan Iran dan memaksa lawan berasumsi bahwa sebagian kapasitasnya tetap akan bertahan bahkan setelah gelombang serangan besar pertama. Bagi perencana militer, daya tahan tersebut berarti keputusan untuk terus menargetkan infrastruktur rudal Iran berisiko memicu konflik berkepanjangan, alih-alih operasi singkat yang cepat dan menentukan.





