Pelajar Terdampak Kebakaran di Desa Galung Tulu Tidak Bisa Sekolah
Sebanyak 22 pelajar dari Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar karena seragam dan perlengkapan sekolah mereka hangus terbakar. Peristiwa ini terjadi setelah kebakaran hebat melanda pemukiman warga pada Sabtu (28/2/2026) malam.
Para pelajar yang terdampak kebakaran terdiri dari 13 anak SD, 7 anak SMP, dan 2 anak SMA. Mereka berasal dari 52 Kepala Keluarga (KK) yang terkena dampak musibah. Saat ini, pemerintah desa telah melakukan pendataan untuk segera menyalurkan bantuan berupa seragam dan perlengkapan sekolah.
Salah satu korban, Annisa, siswi kelas empat SDN 044 Galung Tulu, mengungkapkan bahwa seluruh perlengkapan sekolahnya seperti sepatu, tas, dan alat tulis hangus terbakar. Ia dan keluarganya kini tinggal di tenda darurat yang dibangun di lahan bekas rumah mereka.
“Mulai dari sepatu, tas, alat tulis, seragam semuanya hangus terbakar jadi tidak ke sekolah,” ujarnya kepada wartawan.

Anisa adalah salah satu dari tiga anak pasangan Idawati dan Kannu. Kakaknya juga duduk di bangku SMP, dan semua seragam sekolahnya ikut hangus dalam kebakaran tersebut. Idawati hanya berhasil menyelamatkan beberapa lembar pakaian, namun ia bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat.
Sementara itu, Sekretaris Desa Galung Tulu, Muhammad Sukri, menjelaskan bahwa pihak desa telah melakukan pendataan terhadap para pelajar yang terdampak. Mereka mencatat ukuran seragam dan sepatu agar bisa segera mendapatkan bantuan.
“Kita sudah data, kita cacat ukuran sepatu, ukuran seragam, agar segera dapat bantuan seragam sekolah,” kata Muhammad Sukri.
Kebakaran yang terjadi pada pukul 20.30 WITA ini meludeskan 38 rumah. Kejadian ini terjadi saat warga sedang melaksanakan sholat tarawih di masjid. Beberapa rumah dalam kondisi kosong karena penghuninya pergi ke masjid. Api cepat merambat ke rumah-rumah lain karena lokasi yang berdekatan dan struktur bangunan semi permanen.
Warga sekitar hanya bisa pasrah melihat kobaran api. Mereka mencoba memadamkannya dengan air seadanya. Namun, kesulitan akses akibat kawasan padat penduduk membuat petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Polman dan Majene kesulitan memadamkan api.
Petugas Damkar mengerahkan 10 armada untuk menangani kebakaran. Meski begitu, proses pemadaman berlangsung cukup sulit. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Para pelajar yang terdampak kebakaran kini harus menunggu bantuan dari pihak desa dan instansi terkait agar dapat kembali bersekolah. Mereka berharap bantuan seragam dan perlengkapan sekolah segera diberikan agar aktivitas belajar tidak terganggu.





