Serangan di Dua Sekolah Iran Tewaskan 100 Orang, Militer Israel Bungkam

1de17020 804f 11ef B7ce 7bc24e72fab5.jpg 8
1de17020 804f 11ef B7ce 7bc24e72fab5.jpg 8

Serangan Udara AS-Israel yang Menewaskan Ratusan Orang di Iran

Serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap dua sekolah di Iran pada hari Sabtu (28/2/2026) mengakibatkan lebih dari 100 korban jiwa, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Insiden ini menimbulkan kecaman dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Iran dan organisasi bantuan kemanusiaan.

Pada Minggu (1/3/2026), militer Israel menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya serangan terhadap sekolah tersebut. Dalam pernyataannya, Letnan Kolonel Nadav Shoshani, juru bicara militer Israel, menyebutkan bahwa operasi mereka dilakukan dengan sangat presisi. Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan sedang melakukan penyelidikan terkait laporan insiden tersebut. Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menegaskan bahwa perlindungan warga sipil menjadi prioritas utama.

Menurut laporan dari Mizan News Agency, kantor berita resmi Iran, setidaknya 148 orang tewas dalam serangan yang menghancurkan sebuah sekolah dasar putri di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Sekolah tersebut berada sekitar 600 meter dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang sebelumnya menjadi target serangan Israel dan AS.

Di sisi lain, kantor berita Iran Mehr melaporkan bahwa dua siswa tewas akibat serangan Israel lain yang menghantam sebuah sekolah di sebelah timur Teheran. Setelah insiden ini, Iran langsung menuding AS dan Israel sebagai pelaku serangan.

Total korban jiwa dalam serangan udara di Iran mencapai 201 orang, dengan 747 lainnya terluka, menurut Bulan Sabit Merah Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut insiden ini sebagai “tindakan barbar” dan “halaman hitam lain dalam catatan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya”.

Tanggapan Internasional dan Kecaman

Setelah serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan di platform Truth Social bahwa tindakan ini bertujuan untuk “membela rakyat Amerika dari ancaman rezim Iran” dan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia juga memanggil rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan mereka.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tujuan serangan adalah untuk menghilangkan “ancaman eksistensial” dari rezim Iran terhadap Israel. Selain Ayatollah Ali Khamenei, banyak pejabat senior Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, seperti:

  • Ali Shamkhani, penasihat senior Ayatollah Ali Khamenei
  • Mohammad Pakpour, Panglima IRGC
  • Aziz Nasirzadeh, Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran
  • Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran

Balasan Iran dan Penutupan Wilayah Udara

Iran langsung melakukan serangan balasan dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke Israel. Sebanyak 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, Qatar, UAE, dan lainnya, menjadi target serangan balasan Iran.

Dalam pernyataannya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran.” Menurut IRGC, serangan akan segera dimulai dan akan menargetkan “area pendudukan dan pangkalan teroris Amerika” di wilayah tersebut.

Selain itu, serangan AS-Israel terhadap Iran juga berdampak luas, sehingga sejumlah negara di Timur Tengah menutup wilayah udaranya. Penutupan wilayah udara terjadi di Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab (UEA).


Pos terkait