Ketegangan di Selat Hormuz Memicu Kenaikan Harga Minyak dan Penghentian Operasi Pelayaran
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah sebuah kapal tanker minyak diserang oleh drone boat yang diduga berasal dari Iran. Serangan ini terjadi di wilayah perairan strategis tersebut, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia dan menghentikan sebagian besar aktivitas pelayaran internasional di kawasan Teluk Oman.
Menurut laporan resmi dari Oman Maritime Security Centre (MSC), kapal tanker bernama MKD VYOM yang berbendera Republik Kepulauan Marshall diserang sekitar 52 mil laut (96,3 km) dari pantai Muscat, Oman. Kapal tersebut tengah mengangkut sekitar 59.463 metrik ton kargo saat serangan terjadi. Serangan drone boat tersebut memicu ledakan di ruang mesin utama yang menyebabkan kebakaran hebat. Satu awak kapal asal India dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Di atas kapal terdapat 21 awak dari berbagai negara, terdiri dari 16 warga India, empat warga Bangladesh, dan satu warga Ukraina. Seluruh kru berhasil dievakuasi oleh kapal komersial MV SAND yang berbendera Republik Panama. Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Otoritas Oman menyatakan masih terus memantau kondisi kapal yang rusak dan telah mengeluarkan peringatan bagi kapal-kapal lain yang melintas di kawasan Teluk Oman dekat Selat Hormuz.
Serangan Kedua dalam Sepekan
Insiden ini terjadi hanya sehari setelah Oman MSC melaporkan serangan pertama terhadap kapal tanker berbendera Palau di lepas pantai Musandam. Kapal tersebut diketahui berada di bawah sanksi Amerika Serikat, namun tidak dijelaskan secara rinci pihak mana yang melakukan serangan. Ketegangan meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Sebagai respons, Angkatan Laut Iran mengeluarkan peringatan yang melarang kapal komersial melintas di Selat Hormuz.
Meski tidak ada pengumuman resmi penutupan jalur laut oleh otoritas maritim internasional, ancaman langsung dan serangan terhadap kapal dagang membuat premi asuransi perang melonjak drastis. Risiko keamanan ekstrem menyebabkan hampir seluruh operasi pelayaran di kawasan tersebut terhenti.
Perusahaan Pelayaran Dunia Hentikan Operasi
Sejumlah perusahaan pelayaran global langsung mengambil langkah cepat untuk melindungi kru dan aset mereka. Raksasa pelayaran dunia seperti Maersk, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM mengumumkan penghentian sementara seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kapal-kapal yang sedang menuju Teluk Persia diarahkan ke lokasi berlabuh yang aman, sementara banyak layanan dialihkan melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan menangguhkan jalur Terusan Suez.
Sementara itu, Mediterranean Shipping Company (MSC) juga memerintahkan seluruh kapal di wilayah Teluk untuk menuju tempat perlindungan yang telah ditentukan serta menghentikan sementara pemesanan kargo ke Timur Tengah secara global. Perusahaan pelayaran Jepang seperti NYK Line, Mitsui O.S.K. Lines, dan Kawasaki Kisen Kaisha turut menghentikan operasi di Selat Hormuz sejak Sabtu malam.
Di sektor energi, sejumlah perusahaan minyak besar, pemilik tanker, dan rumah dagang komoditas juga menghentikan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG melalui jalur tersebut.
Lalu Lintas Kapal Anjlok 70 Persen
Data pelacakan kapal independen yang dikutip Reuters menunjukkan terjadi penurunan sekitar 70 persen lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz hingga Sabtu malam. Aktivitas di jalur pelayaran utama turun antara 40 hingga 50 persen pada hari Minggu. Setidaknya 150 kapal tanker minyak mentah dan LNG terpaksa menjatuhkan jangkar di perairan terbuka Teluk, terutama di lepas pantai Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.
Secara teknis, Selat Hormuz belum dinyatakan berada dalam blokade permanen atau diakui secara internasional sebagai wilayah tertutup. Namun secara de facto, operasi komersial praktis terhenti akibat tingginya risiko keamanan dan penarikan dukungan dari perusahaan asuransi.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi global langsung berdampak pada pasar komoditas. Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat melonjak 7 persen menjadi 72 dolar AS per barel, sementara Brent crude juga naik 7 persen menjadi 78,4 dolar AS per barel pada perdagangan Senin pagi. Para pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dari Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya dapat terganggu serius jika situasi keamanan tidak segera stabil.
Selat Hormuz sendiri mengalirkan sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak laut global serta sebagian besar ekspor LNG dunia. Gangguan ini berpotensi memicu gejolak ekonomi global jika berlangsung dalam waktu lama. Para analis memperingatkan bahwa stabilitas kawasan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga energi dan keamanan perdagangan internasional dalam beberapa pekan ke depan.
Hingga kini, situasi di Selat Hormuz masih dinamis dan penuh ketidakpastian, dengan dunia menanti perkembangan terbaru dari kawasan yang menjadi salah satu jalur energi paling vital di planet ini.





