Perkiraan Kenaikan Harga Solar Akibat Konflik Timur Tengah
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, memperkirakan bahwa harga solar di Indonesia akan naik sekitar Rp 750 hingga Rp 2.000 per liter akibat serangan Israel ke Iran. Ia menjelaskan bahwa dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (Brent) ke harga solar domestik.
Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, menargetkan para pemimpin tertinggi Iran dan menyebabkan konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga solar bisa terjadi karena eskalasi konflik berpotensi menyebabkan gangguan di Selat Hormuz. Jalur ini dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta 20–25 persen perdagangan gas alam cair atau LNG global. Akibatnya, harga energi internasional bisa melonjak jika terjadi gangguan.
Kisaran kenaikan solar yang dihitung Setijadi didasarkan pada skenario moderat kenaikan harga minyak global sebesar US$ 25 per barel. Dalam skenario yang lebih berat, harga minyak global bahkan bisa melambung hingga US$ 50 per barel.
Pengaruh terhadap Biaya Operasional Truk
Setijadi mengatakan bahwa solar merupakan komponen utama biaya operasional truk yang menjadi tulang punggung distribusi nasional. Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah dikhawatirkan akan meningkatkan biaya distribusi barang di Indonesia secara signifikan.
Ia memperkirakan bahwa kenaikan ongkos angkut bisa mencapai 10,5 hingga 12 persen jika terjadi kenaikan harga solar sebesar 30 persen. Besaran kenaikan ongkos angkut itu didasarkan asumsi bahwa komponen bahan bakar minyak (BBM) mencapai sekitar 35–40 persen dari total biaya operasi truk.
Dampak pada Harga Barang
Kenaikan ongkos distribusi akan mempengaruhi harga barang. Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk. Kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti bahan pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi cepat saji.
Sensitivitas Sistem Logistik Indonesia
Setijadi menjelaskan bahwa logistik Indonesia masih bertumpu pada transportasi jalan, sehingga sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi. Risiko terbesarnya adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok.
Ancaman bagi Industri Berbasis Impor dan Sektor Lainnya
Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda. Mereka mengalami kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik. Selain itu, sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin.
Rekomendasi untuk Pemerintah
Dengan kerentanan tersebut, Setijadi mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif dan mempercepat diversifikasi energi. Ia juga menyarankan penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api. Penguatan distribusi itu dinilai penting untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.
Ia juga menekankan perlunya efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, dan penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik. Menurutnya, tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak global berisiko menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat.





