Serangan Mendadak: Iran Serang Kantor Netanyahu dengan Rudal Kheibar

847bc3b0 7f66 11ef 9c1a Eb1e1eaae85f.jpg 30
847bc3b0 7f66 11ef 9c1a Eb1e1eaae85f.jpg 30

Serangan Rudal Balistik Iran ke Kantor Perdana Menteri Israel

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menargetkan kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan rudal balistik Kheybar Shekan. Klaim ini disampaikan melalui pernyataan resmi Departemen Hubungan Masyarakat IRGC yang dipublikasikan di kanal Telegram mereka.

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari “gelombang ke-10” operasi militer Iran. Mereka mengklaim bahwa kantor perdana menteri Israel serta markas komandan Angkatan Udara Israel dihantam oleh rudal balistik jenis Kheybar Shekan. Pernyataan serupa juga dimuat oleh kantor berita Fars.

“Kantor Perdana Menteri rezim Zionis dan markas komandan angkatan udara menjadi sasaran dalam serangan mendadak dan terarah menggunakan rudal balistik Kheybar Shekan,” demikian pernyataan IRGC.

Hingga artikel ini diturunkan, otoritas Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim tersebut. Namun media Israel, The Times of Israel, melaporkan bahwa tidak ada korban luka dalam serangan yang disebut Iran. Keberadaan dan kondisi Netanyahu juga belum diumumkan secara terbuka setelah klaim serangan itu mencuat.

Serangan ini disebut sebagai bagian dari aksi balasan Iran atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut dinamai Operasi Raungan Singa oleh pihak Israel dan Operasi Amukan Epik oleh Amerika Serikat.

Pengaruh Terhadap Situasi Regional

Dalam perkembangan lain pada hari yang sama, Iran juga melaporkan telah menyerang sejumlah wilayah di negara-negara Teluk dan mengklaim menembak jatuh jet tempur F-15 milik Amerika Serikat di Kuwait. Klaim ini pun belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Washington maupun otoritas Kuwait.

Sebelumnya sempat beredar kabar di media sosial yang menyebut Netanyahu melarikan diri ke Jerman. Namun informasi tersebut dibantah oleh Kantor Perdana Menteri Israel, yang menyatakan Netanyahu masih menjalankan tugas dan menggelar pertemuan dengan Menteri Pertahanan, Kepala Staf Militer, serta Direktur Mossad di Tel Aviv pada Minggu (1/3/2026).

Teheran menegaskan bahwa serangan terhadap Israel merupakan hak dan kewajiban mereka sebagai bentuk pembalasan atas kematian Khamenei. Iran juga menuding Amerika Serikat bertanggung jawab atas eskalasi konflik di tengah negosiasi nuklir yang sebelumnya masih berlangsung.

Situasi ini memicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan dan potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah analis mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya perang skala besar yang bisa mengancam stabilitas regional.

Komentar dan Reaksi Internasional

Pihak internasional mulai menanggapi situasi ini dengan waspada. Beberapa negara Eropa dan Asia mengeluarkan pernyataan kepedulian terhadap situasi di Timur Tengah. PBB juga diberitakan sedang mempertimbangkan langkah-langkah diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik.

Di sisi lain, beberapa organisasi non-pemerintah seperti Human Rights Watch dan Amnesty International mengecam tindakan Iran dan Israel atas tindakan militer yang dianggap merusak stabilitas kawasan. Mereka meminta kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.

Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel atau AS terkait serangan rudal Iran, isu ini telah memicu reaksi kuat di dunia internasional. Dampak dari serangan ini masih akan terasa dalam waktu dekat, terutama jika tidak ada upaya diplomasi yang efektif.

Potensi Konsekuensi dan Langkah Berikutnya

Jika konflik terus berkembang, potensi ancaman terhadap keamanan global semakin nyata. Negara-negara besar seperti Rusia dan Cina juga mulai mengambil sikap lebih hati-hati terhadap situasi di kawasan tersebut.

Pihak-pihak yang terlibat diharapkan dapat menunjukkan kesadaran akan dampak jangka panjang dari tindakan militer. Kedamaian regional adalah prioritas utama, dan segala tindakan harus dilakukan dengan memperhatikan kepentingan bersama.

Dengan situasi yang terus memanas, dunia internasional harus tetap waspada dan siap melakukan intervensi jika diperlukan. Keseimbangan antara keamanan nasional dan stabilitas global adalah kunci untuk menghindari konflik yang lebih besar.


Pos terkait