JAKARTA — Tindakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memulai serangan militer terhadap Iran kembali menciptakan ketidakpastian di tingkat global. Di tengah situasi ini, pasar energi dan pelaku bisnis internasional sedang bersiap menghadapi potensi gejolak lanjutan.
Langkah militer yang dilakukan oleh AS dinilai bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dari Trump, yang mengecam kebijakan intervensi luar negeri para pendahulunya. Dalam kunjungannya ke Timur Tengah pada Mei lalu, Trump menyatakan bahwa AS tidak lagi berupaya membentuk ulang negara-negara lain. Namun kurang dari setahun kemudian, ia memerintahkan serangan besar-besaran terhadap Iran dengan alasan melindungi kepentingan keamanan nasional.
Banyak analis mempertanyakan arah kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Trump. Seorang peneliti senior dari Center for International Policy, Negar Mortazavi, menyebut konflik ini sebagai “perang pilihan”.
“Ini sekali lagi perang yang diluncurkan AS dengan dorongan dari Israel,” ujarnya dalam pernyataannya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, selama dua dekade terakhir telah memberi peringatan tentang ancaman nuklir Iran. Namun Iran membantah pengembangan senjata nuklir dan beberapa pejabat AS sebelumnya juga menyatakan bahwa tidak ada bukti publik yang menunjukkan bahwa Teheran sedang mempersenjatai program pengayaan uraniumnya.
Trump kini mengangkat isu pengembangan rudal balistik Iran sebagai ancaman baru. Dalam pidato kenegaraannya pekan ini, ia menyatakan bahwa Iran sedang membangun kemampuan rudal yang dapat menjangkau Amerika Serikat. Meski begitu, klaim tersebut belum disertai bukti terbuka.
Di dalam negeri AS, dukungan publik terhadap perang dinilai rendah. Survei University of Maryland menunjukkan bahwa hanya 21 persen responden yang mendukung perang dengan Iran. Jamal Abdi, presiden National Iranian American Council (NIAC), memperingatkan risiko keterlibatan militer yang panjang dan mahal.
Bagi pasar global, ketegangan di kawasan Timur Tengah selalu menjadi faktor sensitif. Wilayah ini merupakan pusat produksi dan jalur distribusi energi dunia. Setiap eskalasi meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dan gas, yang berpotensi mendorong harga energi naik.
Kenaikan harga energi dapat memiliki dampak luas, mulai dari biaya produksi hingga harga barang konsumsi. Negara-negara yang mengimpor energi berisiko menghadapi tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar jika ketidakpastian berlangsung lama.
Pelaku pasar kini sedang memantau apakah konflik akan meluas atau kembali ke jalur diplomasi. Jika eskalasi terus berlanjut, risiko terhadap stabilitas ekonomi global dinilai semakin besar.





