Kehidupan Baru Ruben Onsu Setelah Mualaf
Setelah mengambil langkah penting dalam hidupnya dengan menjadi mualaf, kehidupan Ruben Onsu kini menunjukkan perubahan yang signifikan. Dalam sebuah podcast YouTube Comic8, ia berbincang terbuka bersama sahabatnya, Ivan Gunawan, tentang bagaimana proses keislaman yang dijalaninya memengaruhi pola pikir dan cara hidupnya.
Ruben menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membuatnya memutuskan untuk memperdalam keyakinannya adalah lingkungan sekitar. Ia menyadari bahwa dulu dirinya tidak memiliki lingkungan yang mendukung untuk menjalani agama secara lebih serius.
“Gue gak bilang di keyakinan gue dulu salah tapi gue tidak punya lingkungan yang mengarahkan gue ke jalannya dan terus gue tidak punya lingkungan yang di mana semuanya itu ya hanya datang pada saat ada maunya aja enggak pernah ngasih dampaknya nanti gini coba dipikirin baik-baik gue tidak punya lingkungan itu,” ujar Ruben.
Ia juga bercerita tentang pengalaman ketika ada orang yang ingin membantunya, tetapi hanya berhenti pada ucapan tanpa tindakan nyata. Hal ini justru membuatnya merasa perlu lebih berpikir matang dan mencari tindakan yang benar-benar bisa memberikan dampak positif.
Melihat perubahan tersebut, Ivan Gunawan ikut memberi komentar. Menurutnya, perbedaan sikap Ruben sebelum dan sesudah mualaf sangat terasa.
“Jadi kalo dulu lo capek nangis ya. Kalau sekarang tuh capek ya istigfar jadi tenang tenangnya tuh beda ya. Capek lo bisa shalat, capek lo bisa nangis sama Allah,” tambah Ivan.
Ruben pun setuju dengan pendapat sahabatnya tersebut. Meski begitu, ia mengaku bahwa setelah menjadi mualaf, ia justru tidak lagi mudah menangis seperti dulu. Perubahan ini menunjukkan bahwa ia kini lebih tenang dan stabil dalam menjalani kehidupan spiritualnya.
Ramadan yang Berkesan Bersama Onyo
Kehidupan Ruben kini semakin hangat karena kebersamaannya dengan putra angkatnya, Betrand Peto atau biasa disebut Onyo. Ramadan tahun ini menjadi momen spesial bagi keduanya, karena Onyo aktif terlibat dalam berbagai aktivitas keagamaan.
“Dia (Onyo) nemenin sahur, dia bantu nyiap-nyiapin gitu. Onyo itu sengaja enggak tidur untuk dia ngebangun sahur, jadi pas saat gua sahur, dia tidur, dia jamnya dirubah sendiri,” ujarnya.
Awalnya, Ruben berencana melakukan umrah di bulan Ramadan. Namun rencana tersebut berubah karena permintaan Onyo.
“Jadi gini sebenarnya umrah aku yang ketiga harusnya di bulan Ramadan ini, tapi Onyo minta ‘ayah kalau bisa Ramadan di sini aja, Onyo pengin ikutan ngebangunin sahur’ jadinya gua majuin berangkatnya,” ungkapnya.
Kebersamaan mereka diisi dengan obrolan ringan dan momen sederhana yang justru terasa sangat berarti. Ruben mengaku bahwa mereka lebih banyak berbicara daripada melakukan hal-hal yang rumit.
“Kita lebih banyak ngobrol sih, aku sama Onyo lebih banyak ngobrol. Onyo tuh kepingin ngebantuin hal yang biasa gua kerjakan gitu, kayak ngebangunin sahur, dia pengin ikut menyiapkan gitu,” jelasnya.
Saat Ruben bersiap untuk umrah, Onyo juga ikut sibuk membantu meskipun belum memahami detailnya.
“Terus misalnya gue mau umrah nih kemarin, dia ikut sibuk tuh sama koper padahal dia enggak ngerti baju yang mau gua bawa tuh yang mana kan,” katanya.
Ruben menegaskan bahwa keputusan Onyo untuk tinggal bersamanya datang dari keinginan sang anak sendiri.

“Memang Onyo tinggal sama saya, Onyo sendiri yang minta. Ya itu senangnya bukan main, karena perjalanan umrahku yang pertama salah satu doa utamaku adalah untuk tinggal bersama anak-anakku,” ungkapnya.
“Onyo bilang cuman kepingin tinggal bareng, ‘ayah Onyo mau tinggal di sini’. Jadi gue menanggapi dengan ‘ya kapanpun Onyo, ini rumah Onyo, Thalia, Tania juga’ jadi tidak ada anak berdiri di dua kaki gitu ya. Ya selama lagi proses pindahan gua nyiapin semuanya,” tutupnya.
Bagi Ruben, perjalanan spiritualnya kini terasa semakin lengkap—bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang kedekatan hati bersama anak-anaknya.





