Setelah Serangan Israel ke Iran, Prabowo Siap Evaluasi Keanggotaan Indonesia di BoP

132101519 Capture 60
132101519 Capture 60

Presiden Prabowo Pertimbangkan Evaluasi Kepesertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, disebut sedang mempertimbangkan evaluasi keanggotaan negara ini dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) setelah serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Hal ini diungkapkan saat Presiden mengadakan pertemuan dengan berbagai tokoh penting seperti presiden dan wakil presiden sebelumnya, mantan menteri luar negeri, ketua umum partai politik, hingga para menteri dari Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyatakan kesiapan untuk mengevaluasi peran Indonesia dalam BoP. Menurut mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Presiden tidak menutup mata atas desakan masyarakat yang meminta Indonesia keluar dari BoP. “Iya (Presiden menyatakan siap mengevaluasi), dengan perkembangan-perkembangan terakhir ini, memang harus dievaluasi,” ujar Hassan usai pertemuan selama 3,5 jam itu.

Peran BoP yang Terancam

Serangan AS dan Israel, yang merupakan anggota BoP, berpotensi melemahkan mandat BoP yang telah ditetapkan. “Kita bahas (BoP), tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan, kemungkinan melemahkan posisi dan mandat BoP? Kita akan berhitung lagi dari sisi itu,” tambah Hassan.

BoP dibentuk dengan tujuan menciptakan dan membangun perdamaian di kawasan. Misinya meliputi melancarkan gencatan senjata (ceasefire), memudahkan akses bantuan kemanusiaan, serta melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun, Hassan menyatakan bahwa Indonesia perlu mengevaluasi kembali keanggotaannya, termasuk rencana pengiriman 8.000 tentara yang tergabung dalam ISF ke Palestina.

Potensi Pengurangan Kontribusi

Hassan mengatakan bahwa potensi keberhasilan BoP telah menurun akibat serangan Israel terhadap Iran. “Bisa potensi berhasilnya berkurang. Kita akan menilai, apakah dengan begitu kita akan terus patuh membayar. Yang kedua apakah penggelaran pasukan yang kita justru paling besar kita akan berhitung lagi,” jelas Hassan.

Selain itu, Presiden Prabowo disebut sempat membahas isu ini saat berkomunikasi dengan pemimpin-pemimpin lain, termasuk negara-negara di Teluk Persia. “Dari komunikasi beliau dengan para kepala negara lain, terus juga negara-negara OKI, kesan bahwa potensi BOP berhasil, menurun. Nah menurunnya berapa, kita lihat saja dengan perkembangannya,” lanjut Hassan.

Opsi Keluar dari BoP

Hassan juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo tidak menutup pintu untuk opsi keluar dari keanggotaan BoP jika misi organisasi tersebut tidak tercapai. “Itu dibahas tentang bahwa perang yang terjadi sekarang itu berpotensi melemahkan kemungkinan BOP berhasil, yaitu Presiden mengatakan kita akan menilai apakah sejauh mana BOP akan tetap menjalankan misinya. Kalau tidak ya kita keluar, itu sangat jelas beliau tidak menutupi,” kata Hassan.

Pengiriman Pasukan ke Palestina

Lebih lanjut, Hassan menyebutkan bahwa pengiriman 8.000 orang untuk memperkuat ISF turut dibahas dalam pertemuan tersebut. “Beliau bicara (pengiriman pasukan). Tergantung pada BOP-nya dinilai akan efektif atau tidak, karena memang kontribusi kita juga paling besar, paling besar dalam artian suara kita menentukan kalau ada kontribusi 300 orang ya, itu sangat besar,” ujar Hassan.


Pos terkait